by

Teknologi yang Terinspirasi dari Hewan Laut

Manusia memang tidak akan pernah bisa dipisahkan dari perkembangan teknologi, karena teknologi dapat mempermudah manusia dalam melakukan rutinitas sehari–hari. Disebabkan oleh kebutuhan mendesak tersebut untuk terus mengembangkan teknologi, manusia sering sekali belajar dari alam dan membuat teknologi berdasarkan apa yang telah ada dan dilakukan oleh alam. Teknologi yang sistem kerjanya menyerupai apa yang telah ada di alam bisa Anda temukan di berbagai macam bidang, seperti kedokteran, transportasi, dan fotografi. Contoh yang nyata dalam bidang kedokteran dan penyelamatan ialah Octobot buatan Universitas Harvard pada tahun 2016 silam. Octobot merupakan robot berbentuk gurita yang lembut, sehingga diharapkan suatu saat nanti dapat menyelinap melalui lubang kecil dan membantu manusia melakukan operasi atau menyelinap di reruntuhan bangunan. Selain octobot, kini ada teknologi lain yang sifatnya meniru hewan yang ada di dalam. Jika Anda penasaran, Anda bisa simak sebagai berikut ini.

Teknologi yang Terinspirasi dari Hewan Laut

  1. Camera dan GPS bawah laut yang meniru mata udang

Jika Anda seorang fotografer handal yang juga memiliki hobi menyelam, maka teknologi kamera canggih ini sangat sesuai dengan kebutuhan Anda tersebut. Kamera yang spesial satu ini pembuatannya terinspirasi dari mata hewan laut udang. Udang dapat merasakan dan memahami tentang geografi lingkungan di sekitarnya dengan memanfaatkan pola polarisasi cahaya yang masuk ke dalam laut. Polarisasi cahaya yang masuk ke dalam laut ini menyerupai seutas tali yang dapat terombang ambing ke atas dan ke bawah. Dengan kata lain, kamera ini dapat mendeteksi adanya perubahan pola polarisasi cahaya ketika memasuki laut, yang mana dapat mengalami pembelokan dan penyebaran. Berkat kemampuan kamera ini untuk mendeteksi polarisasi cahaya dalam air, kamera ini dapat juga digunakan sebagai GPS bawah laut. Kini para peneliti yang tengah mengembangkan kamera canggih ini telah memahami cara untuk mendeteksi letak matahari yang juga dapat digunakan untuk mendeteksi keberadaan dari kamera itu sendiri.

Walaupun kamera canggih ini sudah dapat digunakan sebagai GPS, teknologi ini tetap memiliki keterbatasan dalam hal jarak. Pendeteksian kamera ini baru dapat digunakan dengan tingkat akurasi sebesar 60 kilometer. Akurasi sebesar 60 kilometer berarti Anda hanya dapat mengestimasi keberadaan kamera dalam jarak tersebut dan untuk mengetahui letaknya dengan lebih detail, Anda harus melakukan pencarian secara manual. Menyadari adanya keterbatasan jarak ini, para peneliti tersebut tengah berusaha untuk meningkatkan tingkat akurasi melalui pengembangan algoritma. Pengembangan algoritma tersebut diharapkan suatu hari dapat memperbaiki estimasi posisi dari kamera yang tingkat akurasi  hanya 60 kilometer menjadi lebih kecil dari 1 kilometer. Estimasi posisi kamera lebih kecil dari 1 kilometer berarti Anda dapat secara langsung mendeteksi keberadaan kamera tanpa perlu melakukan pencarian dengan waktu yang lebih lama secara manual. Kamera sekaligus GPS dengan sistem pendeteksian polarisasi cahaya ini, tentu saja tidak menggantikan peran dari GPS lama yang digunakan untuk di daratan. Keduanya memiliki perannya sendiri. Pada GPS tradisional, GPS tersebut tidak dapat digunakan di dalam laut, karena hanya berdasarkan sinyal radio dari satelit. Sinyal radio tersebut tidak dapat digunakan di dalam laut, karena tidak dapat menjelajahi lautan.

Walaupun Kamera yang dilengkapi dengan GPS tersebut sudah dapat digunakan di bawah laut, tetap saja ada batasan kedalaman yang harus diperhatikan. Kamera tersebut tidak dapat digunakan lebih dari kedalaman sebesar 50 meter dari permukaan laut.

  1. Robot Ikan MIT

Robot ikan dari MIT ini dibuat oleh Robert K. Katzschmann, Joseph DelPreto, Robert MacCurdy, dan Professor Daniela Rus dengan sangat hati–hati. Robot ini dipergunakan untuk memahami kehidupan bawah laut. Robot ini dapat digerakkan tanpa harus membuat para ikan aslinya terganggu. Robot ini dibuat memiliki perilaku mirip sekali dengan ikan aslinya begitu juga cara bergeraknya. SoFi yang merupakan robot ikan buatan MIT iu dapat dikendalikan oleh penyelam dengan menggunakan gelombang ulttrasonik. Untuk membuatnya dapat berenang menyerupai ikan, robot ini dilengkapi dengan baterai yang mampu bertahan selama 40 menit. Kapasitas baterai sebesar itu dianggap sudah cukup, karena kebanyakan para penyelam tidak akan menyelam lebih dari satu jam. Robot ini bergerak kurang lebih dengan cara yang sama seperti ikan yang sebenarnya. Untuk dapat mewujudkan hal itu, robot ini dilengkapi dengan propulsi. Propulsi utama berasal dari ekor, yang digerakkan antara 0,9 dan 1,4 hertz dengan memompa minyak ke satu sisi ekor dan kemudian sisi yang lain untuk membuatnya lentur melakukan gerakan maju mundur dan memberikannya kecepatan tertinggi 21,7 sentimeter per detik. Dengan mengubah proporsi minyak yang dipompa ke setiap sisi, ekor dapat dibuat lentur dengan gerakan ke kiri dan kanan. Robot ikan memiliki sistem kontrol pengapungan kapasitas piston yang dapat membuat ikan stabil, dan dapat menyelam hingga kedalaman lebih dari 18 meter.

SoFi telah mengalami pengujian penyelaman yang berlokasi di Fiji yang merupakan tempat wisata terumbu karang dengan kondisi yang tidak datar. Hal ini dilakukan untuk menganalisa kelayakan SoFi saat melakukan tugasnya yakni berinteraksi dengan para biota laut. Bagaimanapun juga, SoFi telah dibawa keluar sebanyak enam kali untuk menyelam selama tiga hari, menghabiskan total 240 menit bergerak di bawah air. Seorang penyelam yang mengarahkan SoFi berjarak sekitar 10 meter dan mengamati bahwa robot ini memiliki fitur yang menarik untuk memahami lebih dalam mengenai kehidupan laut. Para peneliti mengamati secara kualitatif bahwa SoFi tidak menakut-nakuti ikan di dekatnya. Meskipun begitu mereka masih membutuhkan lebih banyak eksperimen untuk mencari tahu apakah akan ada dampak lain terhadap ekosistem laut atau tidak dengan kehadiran SoFi.

Demikianlah Teknologi yang Terinspirasi dari Hewan Laut, semoga bermanfaat.

Tentang Penulis: Novia Nur Fitriana S - JV

Novia Nur Fitriana S - JV
Tim Blogger Media Monitoring Club from Yogyakarta. I am international master student at National Taiwan University of Science and Technology.
Sampaikanlah walaupun SATU AYAT! Anda bisa mengirimkan informasi bermanfaat kepada para pembaca kami melalui email atau Whatsapp ke 081355077575

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

three × 4 =