by

Tabloid Obor Rakyat

Masa kampanye pilpres 2014 dihebohkan dengan beredarnya tabloid bernama Obor Rakyat yang isinya menjelek-jelekkan pasangan Jokowi-Kalla. Tabloid ini disebarkan ke berbagai wilayah.

Darmawan Ungkap Setiyardi Pengelola Tabloid Obor Rakyat

Tak tahan menanggung beban dihujat sendirian, kolomnis portal berita inilah.com, Darmawan Sepriyossa akhirnya angkat bicara. Pria yang selama ini dituding berada di balik terbitnya kampanye hitam lewat Tabloid Obor Rakyat mengungkap pelaku sebenarnya.

Sang pelaku adalah Setiyardi, salah satu Komisaris PTPN XIII. Dan bukan kebetulan jika Setiyardi adalah kawan dekat Darmawan. Mereka sama-sama bekas jurnalis di Majalah Tempo.

Dalam testimoninya, Darmawan berkisah. Suatu hari di akhir April 2014, setelah Pemilihan Legislatif 2014 yang memunculkan PDI Perjuangan sebagai pemenang ia ditelepon Setiyardi. “Dia bilang, sedang coba-coba membuat tabloid politik, dan meminta saya mencarikan pengamat politik yang bisa menuliskan artikel,” tulis Darmawan. (Liputan6)

Jabat Komisaris di PTPN XIII, Pemred “Obor Rakyat” Akan Dipanggil Kementerian BUMN

Pemimpin Redaksi Tabloid Obor Rakyat Setyardi Budiono menjabat sebagai Komisaris PT Perkebunan Nusantara (PTPN) XIII. Jabatan itu kemudian dipermasalahkan lantaran dianggap melanggar netralitas BUMN. Setyardi akan dipanggil Kementerian BUMN pada Senin (16/06/2014) hari ini.

“Saya akan panggil yang bersangkutan Senin(hari ini), ketemu dululah,” kata Deputi Bidang Usaha Agro dan Industri Strategis Kementerian BUMN Muhammad Zamkhani ketika dihubungi Kompas.com, Sabtu (14/6/2014).

Zamkhani memaparkan bahwa pertemuan empat mata dengan Setyardi akan difokuskan pada mempertanyakan isu yang beredar saat ini terkait tabloid Obor Rakyat. Tak hanya itu, Zamkhani juga akan mempertanyakan netralitas Setyardi dalam pemilu kali ini.

“Saya harus cek dulu, benar atau tidak isu yang beredar di masyarakat (soal tabloid Obor Rakyat). Saya sendiri belum tahu Obor Rakyat itu seperti apa,” ucap Zamkhani lagi. (Kompas.com)

Ini Alasan Setyardi Sebarkan “Obor Rakyat” ke Pesantren

Pemimpin Redaksi Tabloid Obor Rakyat Setyardi Budiono mengungkapkan alasan tabloid buatannya itu dibagikan ke kalangan santri-santri di wilayah Jawa. Menurut Setyardi, kalangan santri dinilai kurang melek informasi sehingga dibutuhkan asupan informasi mengenai sosok calon presiden yang akan datang melalui medianya itu.

“Penetrasi internet hanya 30 persen berdasarkan data dari APJI (Asosisi Penyedia Jasa Internet). Banyak pesantren, mereka termasuk kelompok masyarakat yang perlu dibantu buka akses informasi,” ujar Setyardi dalam diskusi di Warung Daun, Jakarta, Sabtu (14/6/2014).

Menurut mantan jurnalis itu, selain pesantren, ada juga tempat lain yang menjadi tempat persebaran tabloid Obor Rakyat, tetapi tidak diungkap ke media massa. Saat ditanyakan kembali mengenai titik penyebaran Obor Rakyat, Setyardi tak menjawabnya.

Dia hanya mengatakan bahwa tabloid itu memang sengaja tidak disebarkan ke kalangan akademisi, misalnya kampus. Pasalnya, dia menganggap kalangan itu sudah memiliki akses informasi yang cukup.

Tabloid Obor Rakyat
Tabloid Obor Rakyat

“Kalau saya bagikan ke kampus, mereka sudah tahu bahwa mayoritas caleg PDI-P non-Muslim, bus karatan sudah tahu. Jadi useless buat saya,” tukasnya. (Kompas.com)

Obor Rakyat: Megawati Punya Hak Jawab

Pemimpin Redaksi Tabloid “Obor Rakyat” Setiyardi Budiono menegaskan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri memiliki hak jawab untuk mengklarifikasi segala pemberitaan yang diangkat Tabloid Obor Rakyat jika dianggap tidak benar.

“Megawati bisa klarifikasi bicara ke saya jika apa yang kami tulis dalam judul yakni Jokowi Capres Boneka tidak benar,” kata Setiyardi dalam diskusi Sindo Trijaya di Cikini, Jakarta, Sabtu.

Setiyardi yang mengaku bekerja sebagai salah satu asisten Staf Khusus Presiden Bidang Otonomi Daerah dan Komisaris di perusahaan BUMN, PTPN VIII mengaku penerbitan Tabloid Obor Rakyat sama sekali tidak terkait institusinya.

Dia juga menekankan tidak memiliki kepentingan memihak salah satu pasangan capres tertentu, dan bersikeras menyatakan tabloidnya merupakan produk jurnalistik yang menurutnya sebagai buah kebebasan berekspresi kalangan pers di era reformasi saat ini. (Republika)

Pemred Obor Rakyat: Tabloid Ini Karya Jurnalistik Biasa

Pemimpin Redaksi (Pemred) Tabloid Obor Rakyat, Setiyardi Budiono membantah bahwa berita yang disajikan oleh Obor Rakyat sarat dengan kampanye hitam.

“Saya bawa sampel. Ini sampel tabloid yang sempat dibicarakan. Kalau teman-teman lihat. Ini adalah karya jurnalistik biasa. Sebuah tabloid yang biasa saja, yang sebagai jurnalis saya pertaruhkan reputasi saya,” ujar Setiyardi dalam dialog Polemik yang digelar di Warung Daun Cikini, Jakarta, Sabtu (14/6/2014).

Setiyardi mengatakan memang ada beberapa tulisan yang seolah-olah menyudutkan calon presiden tertentu, yaitu Joko Widodo. Misalnya saja mengenai judul ‘Capres Boneka’. Menurutnya, tulisan ‘Capres Boneka’ merupakan pendapat dari tim redaksi Obor Rakyat.

“Tim redaksi anggap fakta. Capres boneka itu kesimpulan dari tim redaksi dan saya sebagai Pemred,” kata Setiyardi.

Setiyardi justru mengungkapkan kekecewaannya mengapa hasil karya jurnalistiknya dianggap sebagai kampanye hitam. Di era keterbukaan informasi ini Setiyardi merasa seperti di era Orde Baru, ketika informasi ditutup-tutupi. (TribunNews.com)

Obor Rakyat, Tim Jokowi: Beberapa Pihak Terlibat

Tim pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla meminta kepolisian menelusuri siapa saja yang terlibat di belakang pembuatan tabloid Obor Rakyat. Menurut anggota tim pemenangan Jokowi-Jusuf Kalla, Taufik Basari, tidak hanya Setyardi Budiono dan Darmawan Sepriyossa yang terlibat.

“Penyandang dana siapa saja yang terlibat, apa motif, dan bagaimana cara distribusi tabloid. Ada kemungkinan beberapa pihak tertentu yang terlibat,” kata Taufik di Hotel Whiz, Cikini, Jakarta Pusat, Ahad 15 Juni 2014.

Taufik juga meminta polisi menelusuri motif Setyardi menerbitkan tabloid Obor Rakyat yang isi pemberitaannya menyudutkan Jokowi. Pemberitaannya, menurut Taufik, menyebarkan kebencian atas dasar suku, agama, dan ras. (Tempo.co)

Informasi ini masuk dalam bahasan:

- tabloid obor rakyat

Tentang Penulis: Summase Sanjaya

Founder of Media Monitoring Club - Aktif mendengarkan siaran SW dari tahun 1996 hingga 2006. Pernah menjadi Program monitor Radio Jepang NHK World dari tahun 2001-2010, Technical Monitor KBS World Radio, Technical Monitor Radio Taiwan International, dan Technical Monitor Radio Deutsche Welle. Kini sedang menjadi blogger aktif untuk beberapa blog, termasuk blog Media Monitoring Club Ini.
Sampaikanlah walaupun SATU AYAT! Anda bisa mengirimkan informasi bermanfaat kepada para pembaca kami melalui email atau Whatsapp ke 081355077575

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

nineteen − 10 =