by

Satu Pandangan tentang Kebebasan Bersuara

Akan selalu ada dua pendapat terhadap sebuah isu atau masalah, karena setiap orang memiliki pendapatnya sendiri-sendiri sesuai dengan berbagai kacamata yang ia gunakan sebagai sudut pandang selain apa yang ia percayai sebagai kebenaran. Sangat manusiawi jika setiap orang memiliki kebenarannya atau pada satu sisi ia punya kebenaran. Meskipun kebenaran sejati merupakan milik Sang Pencipta, Tuhan Yang Maha Esa, banyaknya sisi pandang dalam kehidupan manusia, membuat tidak semua orang memiliki pendapat yang sama. Memberikan penghargaan terhadap pandangan orang lain merupakan dasar dari demokrasi.

Pada masa kini, kebebasan bersuara merupakan nilai yang universal. Dalam artian, tidak ada orang yang berhak untuk memaksa orang lain untuk tidak bersuara. Bahkan dalam berbagai pesta pemilihan umum saat sekarang ini, semua orang, yang ada di dalam suatu teritori sebuah daerah atau negara, memiliki hak untuk menggunakan suaranya. Di berbagai kesempatan dan forum, siapa saja berhak menyampaikan pendapatnya, menyampaikan suaranya untuk menyampaikan kebenarannya. Merupakan kewajiban kita semua untuk menghargai pendapat atau suara orang lain dan menghargai perbedaan.

Kebebasan bersuara
Kebebasan bersuara (Ilustrasi/pexels)

Masyarakat Indonesia kental dengan budaya ketimuran yang juga berpengaruh dalam sikap masyarakatnya, yang karena memiliki banyak norma-norma serta adat istiadat, cenderung memiliki batasan termasuk dalam hal menyampaikan pendapat. Gaya berkomunikasi yang hati-hati dan protokoler, hingga pengaturan ‘gesture’ atau gerak bahasa tubuh menjadi sangat penting, apalagi saat berhadapan dengan seseorang yang memiliki jabatan atau status yang tinggi di masyarakat. Ada baiknya, namun juga mengekang. Mungkin hal ini menyebabkan orang kita agak sungkan jika berdebat di muka umum, pun jika harus berdebat selalu akan berujung kepada permusuhan dan adu fisik akibat loyalitas terhadap salah satu pihak.

Jika pernah melihat debat calon presiden Amerika Serikat, antara Hillary Clinton dan Donald Trump; tidak jarang bahkan sering salah satu dan yang lain menyerang secara personal. Meskipun demikian, keduanya menghormati pendapat masing-masing dan sedikit sekali atau bahkan hampir tidak ada bentuk-bentuk gesekan fisik yang dilaporkan antara pendukungnya masing-masing. Bandingkan dengan aksi-aksi demonstrasi yang terjadi di Indonesia. Merupakan kerja sangat ekstra bagi penegak keamanan seperti polisi dalam melakukan penertiban. Sedikit gesekan dan isu fisik, sangat cepat menyulut kerusuhan. Jika memperhatikan aksi damai tanggal 4 November lalu di Jakarta, jadi satu contoh pengamalan bagi penyampaian hak untuk bersuara serta karakter dari demostran di Indonesia.

Namun kebebasan bersuara tidak bisa diartikan sebagai kebebasan yang seratus persen. Sebaiknya memang bebas yang bertanggung jawab. Tidak dapat dipungkiri tetap ada batasan-batasan yang harus juga diperhatikan dalam bermasyarakat dan bernegara. Baru-baru metode pembelajaran dengan debat disebut-sebut mampu meningkatkan daya pikir kritis dari para siswa. Metode ini juga dikenal mampu mengembangkan sebuah isu dalam berbagai sudut pandang yang memberikan kemampuan tambahan bagi siswa dalam mengorganisasi, melakukan ajakan, ‘public speaking’, berpikir analitis dan ‘teamwork’. Berpikir kritis sangat diperlukan generasi baru kita untuk mendorong kemajuan bangsa di berbagai lini.

Nah, apakah kita sudah bisa menghargai pendapat orang lain? Saat kita sudah menghargai pendapat orang lain, kita menghargai demokrasi dan kebebasan bersuara.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *