by

Deutsche Welle: Mengenang Rüdiger Siebert

Enam Januari lalu keluarga besar redaksi Indonesia kehilangan seorang anggotanya. Rüdiger Siebert, mantan kepala redaksi yang juga dikenal sebagai penulis. Kecintaannya terdahap Indonesia tak pernah diragukan.

Ia beberapa kali memperhatikan peta untuk memastikan letak Indonesia. „Negeri yang jauh, tapi mungkin menyenangkan,“ itulah yang terlintas di benak Rüdiger Siebert ketika diajak bergabung dengan redaksi Indonesia di Deutsche Welle, awal tahun 70-an.

Dan ini diceritakannya, ketika ia tiba di Bandung dalam kunjungannya yang pertama di Indonesia pada tahun 1974. Selama tiga bulan ia tinggal di Bandung, dirumah sebuah keluarga Indonesia.  Ia belajar bahasa Indonesia, dan “praktek”  menyiar di radio “Sonata 47”, milik pemerintah kota Bandung.

Kunjungannya yang pertama itu adalah awal dari rangkaian kunjungan berikutnya yang menurutnya penting untuk lebih mengenal Indonesia dan orang-orangnya.

Rüdiger Siebert
Rüdiger Siebert

Siebert tak jengah menelusuri kawasan kumuh dan uniknya mampu bertahan semalam suntuk untuk menyaksikan pagelaran wayang golek. Ia juga tak sungkan melangkahkan kakinya ke warung di pinggiran jalan untuk sekedar makan siang.

Katanya,dengan  apa yang dilakukannya, ia bukan hendak menjadi seperti orang Indonesia, melainkan untuk mengerti dan memahaminya. Dari hal-hal yang kecil itulah Siebert menemukan kecintaannya kepada Indonesia.

Dengan pengalaman dan pengetahuan yang diperolehnya dalam kunjungannya di Indonesia  ia memimpin siaran bahasa Indonesia Deutsche Welle dari tahun 1977 sampai 2002. Sikap kritis dan sindirannya terhadap situasi di Indonesia ketika itu, mewarnai tulisannya.

Ia menggambarkan situasinya ibarat sebuah ketenangan di pekuburan. Pers dibungkam, dan kebebasan berbicara dikekang.  Ia pun dicekal  berkunjung ke Indonesia. Tapi ia tak patah arang. Kerinduannya untuk kembali berkunjung ke Indonesia, tak pernah pupus.

Indonesia, katanya, memang  bukan tanah airnya yang kedua, melainkan bila berkunjung ke Indonesia ibarat bertamu di rumah sendiri. Ketika memimpin siaran bahasa Indonesia, Rüdiger Siebert, yang dipangggil dengan sebutan Bung Rudi, menampilkan sikap terbuka, tak sungkan bertanya dan menerima gagasan lain untuk meningkatkan mutu siaran.

Terlepas dari kelebihan dan kekurangannya, Siebert telah memberikan warna  dan nuansa  tersendiri bagi siaran bahasa  Indonesia Deutsche Welle di tengah sikap pemerintah orde baru yang mengecam siaran radio luar negeri sebagai polusi. Untuk mengenalkan Indonesia, ia juga memberikan sumbangan, dengan mengadakan ceramah dan menulisnya  disejumlah media di Jerman.

Bung Rudi yang senang berkunjung ke negeri yang jauh itu akhirnya mengakhiri perjalanannya tanggal 6 Januari lalu di sebuah desa kecil di Kamboja. Hanya beberapa hari menjelang ulang tahunnya yang ke 65, dan ketika tanah kelahirannya, Jerman, diselimuti salju tebal. (Asril Ridwan/DW Indonesian).

(Redaksi: Keluarga Besar Media Monitoring Club turut berduka atas meninggalnya Bapak Rüdiger Siebert)

Informasi ini masuk dalam bahasan:

- ruediger lanz deutsche welle

Tentang Penulis: Summase Sanjaya

Founder of Media Monitoring Club - Aktif mendengarkan siaran SW dari tahun 1996 hingga 2006. Pernah menjadi Program monitor Radio Jepang NHK World dari tahun 2001-2010, Technical Monitor KBS World Radio, Technical Monitor Radio Taiwan International, dan Technical Monitor Radio Deutsche Welle. Kini sedang menjadi blogger aktif untuk beberapa blog, termasuk blog Media Monitoring Club Ini.
Sampaikanlah walaupun SATU AYAT! Anda bisa mengirimkan informasi bermanfaat kepada para pembaca kami melalui email atau Whatsapp ke 081355077575

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

6 + 8 =