by

Ruang Terbuka untuk Publik

Suatu hari suasana siang yang tenang tiba-tiba berubah saat seorang tetangga tergopoh-gopoh dan meneriakkan sesuatu tentang anak kecil yang mendapat kecelakaan. Seketika jajaran rumah di sebuah gang kecil di sebuah kampung itu jadi heboh dan semua orang sibuk mencari tahu apa gerangan yang sedang terjadi. Si kakak korban, berlari ke ujung gang dan langsung histeris melihat sang adik tergeletak pingsan di antara orang–orang yang sibuk menghalau lalu lintas agar dapat membawanya mendapatkan perawatan sesegera mungkin.

Kejadian seperti ini mungkin tidak satu dua kali terjadi, bahkan mungkin sering ditemui oleh masyarakat kita; beberapa kasus malah berakibat pada kehilangan nyawa seseorang. Usut punya usut, jalanan di ujung gang di kampung tersebut memang kebetulan dilintasi oleh jalan arteri antar provinsi dimana arus lalu lintasnya lumayan ramai. Mau tidak mau adanya pembangunan jalan di tengah-tengah kehidupan masyarakat termasuk anak-anak, memaksa mereka harus beradaptasi dengan arus lalu lintas yang juga dilintasi oleh kendaraan-kendaraan berat tersebut.

Pembangunan ekonomi sebuah negara sangat memerlukan jalur transportasi yang dapat diandalkan. Pembangunan jalan kemudian menjadi sangat penting dalam menggerakkan perekonomian hingga ke pelosok-pelosok daerah, dengan harapan pemerataan pembangunan dan kesejahteraan bisa dirasakan oleh semua lapisan masyarakat.

Pertukaran barang dan jasa memerlukan sarana jalan untuk dapat dimobilisasi selain juga untuk membangun kemudahan dalam berkomunikasi. Meskipun demikian, akibat dari pembangunan tentulah harus diperhitungkan dalam melindungi keselamatan warga negara. Pembangunan yang menyeluruh, tidak semata di bidang ekonomi semata. Pembangunan harus juga termasuk pembangunan sumber daya manusia melalui pendidikan dan kesehatan. Pemeliharaan terhadap generasi penerus bangsa harus juga termasuk menjaga keselamatan dan kesehatannya, dalam hal ini memberikan fasilitas yang aman dan nyaman bagi perkembangan anak-anak.

Usia anak-anak merupakan usia dimana mereka mulai mengenal dunia serta lingkungan dimana ia berada. Mereka akan cenderung suka bermain karena rasa ingin tahu yang sedang berkembang. Dunia anak-anak identik dengan dunia bermain, maka mereka membutuhkan tempat untuk dapat menjelajah dan mengenal lingkungan mereka, orang-orang di sekitar mereka serta wilayah tempat mereka berada. Anak-anak membutuhkan tempat untuk bermain dan juga berinteraksi; karena tidak mungkin mereka bisa mendapatkan pengetahuan hanya berada di dalam rumah yang terbatas ruang geraknya.

Semakin pesatnya pembangunan terutama di perkotaan membuat lahan terbukanya semakin sempit. Sementara masyarakat perlu untuk membawa anak-anaknya sesekali berada di tempat yang lebih terbuka untuk mengenal alam. Ruang bermain terbuka menjadi tempat yang sangat berharga untuk  masyarakat, khususnya untuk anak-anak bermain.

Beberapa waktu lalu sebuah kawasan di daerah ibukota Jakarta sedang hangat-hangatnya akan diubah menjadi kawasan lingkungan atau ruang terbuka hijau. Sebenarnya semua kota besar di Indonesia memiliki rencana master tentang penataan ruang di kota termasuk adanya kawasan ruang terbuka hijau yang nantinya dapat difungsikan sebagai ‘public space’ atau ruang untuk publik/masyarakat. Kota yang berada di daerah aliran sebuah sungai wajib memiliki ruang terbuka hijau. Menurut UU No 26 Tahun 2007 tentang Ruang Terbuka Hijau, mengatur proporsi kawasan hutan paling sedikit 30% dari luas daerah aliran sungai yang dimaksudkan untuk menjaga kelestarian lingkungan. Peraturan tersebut juga mengatur klasifikasi dari ruang terbuka hijau yang salah satunya ialah kawasan hijau rekreasi kota.

Ruang publik
Ruang publik (Ilustrasi/By La Citta Vita (Public Space, Madrid Rio) [CC BY-SA 2.0 ], via Wikimedia Commons)
Para orang tua pasti akan sangat terbantu dengan adanya kawasan hijau di dalam kota, dimana mereka dapat memberikan ruang bermain dan belajar untuk anak-anak mereka dengan aman dan nyaman. Selain itu, masyarakat juga memerlukan tempat untuk bersantai sesaat dari kesibukan sehari-hari. Tidak mengherankan jika tempat-tempat rekreasi akan sangat padat dengan pengunjung di masa liburan. Tentunya hal ini menjadi kepekaan bagi kita semua akan kebutuhan adanya ruang terbuka untuk masyarakat.

Pada perkembangan saat ini, kebutuhan akan ruang publik kemudian ada yang dikomersialkan. Di beberapa kota di negara maju ada yang namanya ‘privately owned public space’ atau ‘pops’ dimana perusahaan tertentu dapat mengelola ruang tertentu di dalam kota untuk dijadikan ruang publik. Mereka membangun berbagai ruang publik yang sangat indah dan modern dan tentunya sangat nyaman berada di dalamnya. Sayangnya kekurangan pops ialah, perusahaan pengelola kemudian memiliki otoritas dalam penggunaan area ruang publik tersebut, sehingga ruang publik yang dimaksud diperuntukan hanya publik yang terbatas.

Apapun konsepnya, ruang publik diperuntukkan agar dapat diakses oleh masyarakat dalam mendapatkan kehidupan yang berkualitas di suatu kawasan. Namanya ruang publik maka milik semua orang dan sudah menjadi tanggung jawab kita semua untuk menjaga dan merawat ruang publik yang ada di sekitar kita. Selain itu, sudah sewajarnya keluarga muda yang ingin menentukan tempat tinggal memperhatikan pengembang kawasan yang memperhatikan adanya ruang publik untuk anak-anak mereka di masa depan mendapatkan tempat bermain yang aman dan nyaman jauh dari keramaian atau lalu lintas yang dapat membahayakan keselamatan. Semoga kejadian di prolog tulisan ini akan semakin dikurangi dengan adanya ruang terbuka atau ‘public space’.

Informasi ini masuk dalam bahasan:

- bentar probolinggo

Sampaikanlah walaupun SATU AYAT! Anda bisa mengirimkan informasi bermanfaat kepada para pembaca kami melalui email atau Whatsapp ke 081355077575

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

18 − twelve =