by

Putra Indonesia Yang Menjadi Sutradara Termuda di Festival Film Berlin

Putra Indonesia Yang Menjadi Sutradara Termuda di Festival Film Berlin – Nama Wregas Bhanuteja kerap muncul pada pemberitaan media tentang festival film Berlinale 2015. Pemuda Yogyakarta ini adalah sutradara termuda yang karyanya turut bersaing di kompetisi bergengsi ini.

Bisa melihat festival film Berlinale secara langsung di Jerman, bagi Wregas Bhanuteja adalah impian yang menjadi kenyataan. Sejak berkuliah di Institut Kesenian Jakarta ia kerap menonton Berlinale dari kanal video Youtube. Tidak heran, betapa terkejutnya pria berusia 22 tahun ini, begitu mengetahui film pendeknya lolos seleksi program kompetisi Berlinale Shorts.

“Saya tidak bisa tidur. Waktu diumumkan masih jam empat sore. Saya senang sekali dan saya tidak bisa tidur sampai jam tiga pagi keesokan harinya. Saya terkejut. Begitu saya membuat film tanpa adanya pretensi, tanpa ada keinginan bahwa film ini harus jadi film art atau film bagus, ternyata secara alamiah kesenian film itu muncul dari diri saya sendiri. Tanpa harus dipaksakan. Jadi ibaratnya biarkan mengalir, biarkan keluar alami, maka kesenian akan film itu akan keluar sendiri dari diri kita masing-masing.”

Wregas Bhanuteja lahir pada tanggal 20 Oktober 1992. Ia besar di Yogyakarta dan sudah membuat tiga film pendek: Hanoman, Senyawa dan Lemantun. Film pertamanya ia buat saat masih duduk di bangku kelas 2 SMA. Saat itu ia merasa terganggu sekali dengan bunyi keras knalpot di Jogja. Karena tidak bisa melakukan sesuatu terhadap para pengguna motor besar dengan knalpot, ia memutuskan untuk melampiaskan kekesalannya dalam bentuk film. Film pendeknya “Lembusura” yang berkompetisi di Berlinale tahun ini dibuatnya tahun 2014. Lembusura adalah film eksperimental tentang letusan Gunung Kelud, hujan abu, dan mitos roh Lembusura.

Putra Indonesia Yang Menjadi Sutradara Termuda di Festival Film Berlin 2
“Waktu itu saya bangun pagi. Di depan rumah di Jogja ada hujan abu. Saya tidak bisa kemana-mana. Akhirnya saya ambil kamera dan saya rekam hujan abu. Mulai dari hujan abu itu jatuh, kemudian rumah-rumah tertutup abu dan segala macam. Lalu saya letakkan di meja editing. Dan saya merasa, footage hujan abu bisa diolah menjadi sebuah cerita. Akhirnya yang terbayang di benak saya adalah mitos roh Lembusura. Lembusura adalah sosok roh penunggu atau penjaga Gunung Kelud. Dia menyumpahi dan mengutuk tanah Jawa. Salah satu kutukannya adalah hujan abu ini. Ini film tanpa bujet. Saya buat bersama teman-teman masa kecil saya di Jogja. Ini film untuk senang-senang yang berawal dari spontanitas.”

Wregas datang ke Berlin dibiayai oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Ia memperoleh dana untuk tiket pesawat dan uang saku selama berada di Berlin. Pihak Berlinale menyediakan penginapan di hotel untuk tiga hari. Ia memilih untuk menginap di asrama teman masa SMA-nya yang kini berkuliah di Berlin. Semua serba seadanya, tapi Wregas tidak peduli. Ia sudah tidak sabar melihat reaksi penonton di Jerman akan filmnya.

“Mungkinkah canda, bahasa, dan sikap dalam Lembusura bisa disampaikan ke penonton Jerman? Karena suasananya Jawa sekali. Harapan saya ini tersampaikan. Jadi penonton Berlinale bisa menangkap rasa bahagia yang biasa dirasakan orang Jawa. Film ini bentuk rasa kangen saya terhadap masa kecil di Jogja. Saat main dengan teman-teman dan saat bencana itu bukan sesuatu yang menyedihkan. Perasaan itu yang ingin saya sampaikan. Bahwa bencana itu bukan suatu kesedihan, tapi ya sudah, kita jalani saja dengan gembira.”

DW hadir dalam pemutaran perdana Lembusura khusus untuk kalangan pers 8 Februari lalu. Film Wregas berbahasa Jawa dengan menggunakan subtitle Inggris. Studio penuh sesak, bahkan ada yang duduk di tangga karena tidak kebagian kursi lagi. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan oleh sutradara muda ini. Kebanyakan penonton turut tertawa dan menyimak serius film yang panjangnya 10 menit ini. Target jangka panjang Wregas adalah membuat film panjang pertamanya pada usia 28 tahun. Berdasarkan apa yang sudah ia capai sekarang, sepertinya ini sasaran yang ia raih dengan mudah. (Deutsche Welle)

Demikianlah artikel mengenai Putra Indonesia Yang Menjadi Sutradara Termuda di Festival Film Berlin, semoga bermanfaat.

Informasi ini masuk dalam bahasan:

- film Go Go Power Rangers tidak jadi hujan bisa jadi motor jadi saya bisa

Tentang Penulis: Summase Sanjaya

Founder of Media Monitoring Club - Aktif mendengarkan siaran SW dari tahun 1996 hingga 2006. Pernah menjadi Program monitor Radio Jepang NHK World dari tahun 2001-2010, Technical Monitor KBS World Radio, Technical Monitor Radio Taiwan International, dan Technical Monitor Radio Deutsche Welle. Kini sedang menjadi blogger aktif untuk beberapa blog, termasuk blog Media Monitoring Club Ini.
Sampaikanlah walaupun SATU AYAT! Anda bisa mengirimkan informasi bermanfaat kepada para pembaca kami melalui email atau Whatsapp ke 081355077575

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

5 × one =