by

Praktek Tidak Jujur dan Kesejahteraan Semu

Jika bisa dipersulit mengapa harus dipermudah, mungkin bisa menggambarkan kondisi sistem administrasi di negara kita. Birokrasi kita sangat terkenal dengan kerumitannya. Berdalih untuk menjaga akuntabilitas justru peliknya pemrosesan dimanfaatkan sebagai celah untuk berbuat tidak jujur seperti pungli atau pungutan liar yang sedang banyak dibicarakan akhir-akhir ini, Para pejabat dan petinggi daerah banyak yang kebakaran jenggot. Sementara itu, masyarakat menjadi apatis. Masalahnya, praktik ini sudah sejak lama terjadi bahkan mendarah daging, namun sedikit ‘political will’ yang mau menanganinya dengan baik dan memuaskan.

Acara bermain curang, tidak jujur, patgulipat sudah bukan barang baru di negara ini. Apakah ada unsur kesengajaan atau sudah membudaya ya?

Praktek Tidak Jujur dan Kesejahteraan Semu
Praktek Tidak Jujur dan Kesejahteraan Semu (Ilustrasi/pixabay)

Menengok sejarah Indonesia yang dahulu terdiri dari banyak kerajaan. Kejayaan kerajaan pada masanya meninggalkan perilaku-perilaku priyayi yang terbiasa ‘diladeni’, menerima berbagai upeti, kolusi dan nepotisme. Faktor lain, sebagai bangsa yang kaya dengan kekayaan alam dan cuaca tropikal, membuat masyarakatnya begitu terlena, secara mental dimanjakan dan cenderung menjadi malas. Begitu arus globalisasi bagaikan arus yang menghanyutkan, kebanyakan mengalami kesulitan untuk mampu merespon dalam kecepatan yang sama. Akibatnya, kesempatan terlepas modalpun tergadaikan. Bagaimana untuk dapat bertahan, akhirnya memanfaatkan berbagai kesempatan untuk mencari jalan pintas dan pilihannya ialah dengan berbuat tidak jujur atau curang. Mencari kesempatan dalam kesempitan.

Berbuat tidak jujur bukanlah sikap mental yang baik. Jika akhir-akhir ini banyak terjadi kecurangan sepertinya banyak permasalahan sosial yang belum teratasi dengan baik. Kesenjangan sosial hingga budaya konsumerisme semakin marak. Meskipun pertumbuhan ekonomi meningkat namun, kesejahteraan hanya berupa kemakmuran yang semu. Pernah dengar gini rasio? Parameter ini digunakan untuk menunjukkan kadar kebahagiaan warga di sebuah negara. Semakin kecil nilainya, atau nol, maka masyarakat di negara tersebut sudah bahagia, sedangkan jika angkanya semakin besar menunjukkan warganya tidak bahagia dan juga menjadi indikasi adanya kesenjangan. Bappenas bisa jadi referensi untuk mengetahui posisi rasio gini negara Indonesia saat ini.

Jika dilihat dari rasio gini, didapati kalau penduduk miskin semakin berkurang. Namun demikian, mereka tidak berarti benar-benar bahagia atau yang diistilahkan dengan kesejahteraan semu. Contoh yang paling mudah ditemui ialah, kendaraan kredit yang makin banyak. Ada yang rumahnya masih bambu tapi punya motor keluaran terbaru.

Tampak ada pergeseran kebutuhan, dimana, hal-hal untuk pemenuhan sarana untuk mengejar pemenuhan ekonomi lebih penting dari kebutuhan yang pokok yaitu sandang, pangan dan papan. Ironi yang terjadi ialah lebih mementingkan kebutuhan-kebutuhan kemewahan yang terselubung alasan tuntutan dari perkembangan jaman. Coba pikirkan, sekarang Anda memiliki berbagai fitur canggih di gadget Anda, apakah kesemuanya benar-benar mendukung kehidupan Anda? Dari sekian fitur yang ada, pasti fitur ‘chat’ dan ‘selfie’ yang paling banyak digunakan. Apakah Anda tahu fungsi lebih apa saja dari HP yang Anda miliki sekarang selain memutar musik yang Anda sukai misalnya?

Semoga dapat menjadi pemikiran bagi kita semua untuk tidak terjebak oleh kesejahteraan semu, kemudian menghalalkan praktek-praktek tidak jujur untuk mencapai tujuan. Semu itu tidak nyata, dan semakin kita terlena, tidak ada kebahagiaan selain ‘agony’ atau kepahitan.

Marilah memulai dari diri sendiri untuk bisa hidup lebih sederhana, mementingkan kebutuhan terlebih dahulu sebelum keinginan. Memilih kebutuhan-kebutuhan konsumsi sesuai dengan fungsi bukan semata gaya, memilah mana yang penting dan tidak penting; agar tidak terkungkung mengejar tren dan konsumerisme yang didesain untuk tak ada habisnya atas nama inovasi.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

five × 5 =