by

Pernikahan dan Hak Anak-anak

5/5 (1)

Menurut data demografi dan kesehatan Indonesia menyebutkan ada sekitar 2 juta perempuan menikah di bawah usia 15 tahun. Sumber lain menyebutkan 12,8% perempuan di Indonesia menikah di usia 15 – 19 tahun. Mungkin bukan angka yang signifikan dibandingkan dengan jumlah perempuan di Indonesia, namun bukan jumlah yang kecil juga. Dalam artian, masih ada kelompok rentan yang terpapar risiko-risiko akibat pernikahan dini khususnya di bidang kesehatan diantaranya angka kematian ibu dan anak serta gizi buruk. Selain melanggar hukum pernikahan yang berlaku terkait dengan usia minimal untuk menikah, pernikahan dini juga melanggar hak-hak anak.

Menurut badan dunia UNICEF, yang disebut dengan anak-anak ialah mereka yang berusia hingga 18 tahun. Anak-anak merupakan bagian dari kelompok di masyarakat yang memiliki hak yang harus dihormati dan dihargai. Hak atas pendidikan, memiliki kesempatan bermain selain juga mendapatkan perlindungan dari keluarga dan lingkungannya. Kondisi mereka yang masih bergantung kepada orang lain membuat mereka rawan dilanggar hak-haknya; eksploitasi, pelecehan dan berbagai bentuk kekerasan membayangi kehidupan mereka. Untuk itu, orang dewasa wajib untuk memenuhi hak-hak anak. Masalahnya, banyak orang dewasa yang memandang bahwa anak-anak memiliki kewajiban terhadap orang tuanya kelak, dalam hal ini anak didoktrin bahwa mereka harus membalas budi kepada orang tuanya setelah dewasa nanti. Pandangan tersebut bukannya salah, namun dipahami dengan kurang tepat, Maksudnya membalas budi kepada orang tua sebaiknya dimaknai sebagai kewajiban orang dewasa untuk menularkan pengetahuan dan keterampilan budi pekerti kepada generasi yang lebih muda.

Pernikahan dini
Pernikahan dini (Ilustrasi/pixabay)

Pemahaman yang kurang tepat tentang anak harus membalas budi kepada orang tua setelah dewasa tersebut, menjadi salah satu alasan adanya pernikahan dini; selain itu ada faktor ekonomi yang mempengaruhi, bahwa anak kemudian merupakan aset atau investasi masa depan bagi orang tua mereka secara ekonomi.

Dari kodrat biologisnya, perempuan semenjak dilahirkan, diembankan tugas menjaga keberlangsungan peradaban manusia di dunia. Budaya di masyarakat telah memperlakukan perempuan sedemikian rupa agar kelak akan menikah dengan seorang pria dan membentuk sebuah keluarga. Perlakukan tersebut kemudian diperparah dengan budaya patrilineal ketimuran yang sangat kental, yang membuat posisi perempuan menghadapi banyak tantangan untuk bisa membuat pilihan-pilihan di dalam kehidupannya.

Di era kebebasan bersuara dan berpendapat sekarang ini, setiap perempuan sudah lebih menyadari akan haknya, tidak saja dalam kodratnya sebagai seorang ibu, namun juga menentukan pilihan-pilihan di dalam kehidupannya.

Ada banyak perempuan yang berpacu dengan waktu untuk segera menikah dan berumah tangga, namun tidak sedikit juga perempuan yang memilih meniti karir yang bagus dan memutuskan tidak menikah atau memiliki seorang anak.

Perempuan masa kini menuntut haknya untuk membuat pilihan terlepas dari berbagai budaya dan norma di masyarakat. Sebuah artikel berargumen tentang kenyataan hidup yang harus dihadapi beberapa perempuan yang membuat ia kemudian memilih untuk tidak menikah, dan menyatakan bahwa menikah dan memiliki anak sebaiknya bukan menjadi semacam ‘goal’ yang harus dicapai dalam kehidupan perempuan. Bagaimanapun, mereka merupakan manusia dengan akal pikiran manusiawi yang memiliki kebutuhan tertentu dalam menjalani kehidupannya dan hal ini patut untuk dihormati.

Perempuan punya kesempatan yang sama dengan pria dalam menentukan pilihan hidup, hal itu sudah tidak dipersoalkan lagi. Malah yang mendasar saat ini ialah tanggung jawab orang dewasa untuk mengutamakan hak-hak anak, satu keprihatinan dunia atas tingginya kerawanan pelanggaran terhadap hak-hak anak saat ini.

Pernikahan seyogianya menjadi sebuah amanah, demikian juga saat memiliki anak-anak. Menjadi orang tua haruslah ikhlas dalam merawat dan membimbing manusia-manusia baru menjadi generasi yang dapat diandalkan di masa depan.

Berikanlah berbagai kesempatan sebagai hak anak-anak dan jadikanlah sebagai ibadah dalam mengabdi kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

1 × four =