Pernahkah Rasulullah Marah?

Nabi Muhammad SAW. merupakan manusia biasa yang diberikan keistimewaan oleh Allah SWT., berbeda dari manusia manapun di dunia. Setiap kesalahan yang dibuatnya, pasti Allah akan segera mengampuni perbuatannya itu. Dan Allah SWT. telah menjamin bahwa setiap yang diucapkan oleh Nabi Muhammad Saw. ialah benar.

“Dan tidaklah yang diucapkannya itu menurut keinginannya. Ucapannya itu tidak lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya),” (Q.S An-Najm [53] : 3-4)

‘Aisyah r.a sebagai seseorang yang paling mengenal Rasulullah Saw. berkata bahwa, “Rasulullah SAW. tidak pernah memukul dengan tangannya, baik terhadap perempuan maupun pembantu, kecuali ketika beliau sedang berjihad di jalan Allah. Beliau juga tidak pernah marah ketika disakiti seseorang, kecuali jika yang dinodai ialah larangan Allah. Jika itu terjadi, maka beliau pun segera membalasnya karena Allah.” (HR. Muslim)

Marahnya Rasulullah
Marahnya Rasulullah

Berikut ini peristiwa-peristiwa dimana Rasulullah SAW. pernah menjadi marah karena Allah.

  1. Membiarkan sesama Muslim berada dalam kemiskinan

Menurut riwayat dari ayah Al Mundzir bin Jarir, suatu ketika datanglah suatu kaum Bani Mudhar yang tidak beralas kaki, berpakaian kusut dan berlubang-lubang, bersorban, sambil memegang pedang. Melihat kefakiran mereka, wajah Rasulullah berubah menjadi marah. Beliau segera masuk ke rumah, kemudian keluar lagi.

Beliau menyuruh Bilal segera mengumandangkan adzan dan iqamah. Setelah shalat, beliau berkhutbah menyampaikan kutipan Al-Qur’an surat An Nisaa’ ayat 1 dan Al Hasyr ayat 18. Setelah itu, beliau bersabda, “Hendaklah seseorang bersedekah dengan dinarnya, dengan bajunya, dengan dirhamnya, dengan sekarung gandumnya, dengan sekarung kurmanya, dan walaupun dengan sebutir kurma.”

Lalu, datanglah lelaki Anshar membawa satu bungkusan di tangannya hingga ia tidak sanggup membawanya. Kemudian, orang-orang mengikuti perbuatannya dan terlihatlah dua tumpukan makanan dan pakaian. Karena ketaatan umat Muslim ini, wajah Nabi Muhammad SAW. berubah menjadi cerah kembali dan tidak marah.

  1. Melihat sarang semut terbakar
BACA JUGA  Cara Islam Dalam Memandang Hari Ibu

Diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas’ud r.a, ketika ia bersama Rasulullah SAW. melewati sarang semut yang terbakar, Rasulullah marah dan bersabda, “Sesungguhnya tidak patut bagi manusia untuk menyiksa dengan siksaan Allah.” (HR. Ahmad dan An Nasa’i)

Semut merupakan binatang yang diistimewakan oleh Allah SWT. sehingga namanya dijadikan nama sebuah surat yaitu An-Naml. Semut termasuk salah satu dari empat binatang yang haram untuk dibun** dan dimakan, yaitu semut, lebah, burung hud-hud, dan burung surad (sejenis burung pipit). (HR. Abu Daud, Ibnu Majah)

  1. Mengatakan orang meninggal adalah orang yang beristirahat

‘Aisyah r.a pernah berkata, suatu ketika Bilal datang kepada Rasulullah dan mengucapkan, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya si Fulanah telah meninggal dan telah beristirahat.” Rasulullah lalu marah dan bersabda, “orang yang beristirahat ialah orang yang sudah masuk surga!” (HR. Ahmad)

  1. Ketika kejahatan menyebar di Bumi

Seorang perempuan Anshar pernah bertamu ke rumah Ummu Salamah. Beberapa saat kemudian, Rasulullah datang dengan marah. Si perempuan anshar pun bersembunyi di balik perisai karena takut. Ia juga tidak mengerti apa yang beliau berdua bahas. Kemudian, perempuan Anshar tadi bertanya, “Wahai Ummu Mu’minin, seakan-akan aku melihat Rasulullah marah?”

“Ya, tidakkah kamu tadi mendengarnya?”

“Apa yang beliau sabdakan?”

“Beliau bersabda, ‘sesungguhnya jika kejahatan sudah menyebar di muka bumi dan tidak ada yang mencegahnya maka Allah akan menurunkan siksaNya terhadap penduduk bumi.’” (HR. Ahmad)

  1. Menolak duduk dengan setan

Abu Hurairah rahimahullah meriwayatkan bahwa ada seorang lelaki yang mencerca Abu Bakar r.a sedangkan Rasulullah tetap diam saja dan tersenyum. Setelah mendapat cercaan betubi-tubi, Abu Bakar akhirnya marah dan menjawab sebagian cercaan tadi. Kemudian, Rasulullah marah dan berdiri. Abu Bakar r.a pun menyusul beliau sembari berkata, “Wahai Rasulullah SAW, ia tadi mencercaku dan engkau pun membiarkan. Namun, ketika aku membalas sebagian cercaannya engkau marah.”

BACA JUGA  12 Tanda Hati Yang Mati

Beliau menjawab, “Sesungguhnya tadi ada malaikat bersamamu membalas untukmu. Setelah engkau membalasnya, datanglah setan dan aku tidak akan duduk dengan setan.”

“Wahai Abu Bakar, ada tiga perkara yang semuanya pasti benar. Tidaklah seorang hamba dizalimi kemudian ia memaafkan karena Allah, melainkan Allah akan menambah kejayaan dan kemenangannya. Tidaklah seorang lelaki membuka pintu pemberian guna menyambung silaturrahim kecuali Allah akan memperbanyaknya. Dan tidaklah ia meminta-minta guna memperbanyak harta, kecuali Allah semakin mengurangi rizqinya.” (HR. Ahmad)

  1. Memperingatkan ummat tentang dekatnya hari kiamat

Jabir bi Abdullah r.a berkata bahwa ketika Rasulullah SAW. mengingatkan tentang kiamat, maka memerah mata beliau, keras suaranya, dan dahsyat marah beliau. Seakan-akan beliau adalah pemberi peringatan dalam pasukan. Berhati-hatilah kalian didatangi kiamat di waktu pagi. (HR. Ibnu Khuzaimah)

Informasi ini masuk dalam bahasan:

- marahnya rasulullah diam - pernahkah rasulullah marah - Rasulullah saw pernah marah - seorang nabi yang tidak pernah marah

Artikel Terkait dan Link Sponsor

Pernahkah Rasulullah Marah? Post in | Last updated: December 13th, 2016 - 51 views

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

ten + 10 =