by

Pegangan dalam Hidup Bermasyarakat

Yang suka nonton sinetron India, pasti tidak asing dengan kisah hidup para tokohnya yang berlatar belakang sebuah keluarga besar yang berada dan tinggal di dalam sebuah rumah super besar layaknya sebuah istana. Di dalamnya terdiri dari, paling tidak dua keluarga atau tiga generasi keturunan. Seorang atau sepasang nenek dan kakek; orang tua; paman dan bibi; anak-anak, sepupu, menantu, ipar dan cucu-cucu, berkumpul di bawah satu atap. Berbagai kepentingan dan latar belakang menciptakan karakter tokoh-tokohnya yang khas, dari pergulatan perebutan kekuasaan hingga harta warisan. Meskipun tidak tinggal dalam sebuah rumah besar, namun situasi yang sama banyak ditemui di daerah perumahan, perkampungan atau pedesaan yang hampir rata-rata penduduknya entah memiliki hubungan persaudaraan ataupun mengenal satu sama lain. Sebuah komunitas yang terbentuk dari kumpulan beberapa keluarga tersebut, bahkan ada yang satu lingkungan hampir semuanya memiliki ikatan hubungan darah saking besarnya sebuah keluarga atau trah. Selain memiliki ikatan yang sangat kuat karena kekerabatan, kehidupannyapun penuh dengan berbagai dinamika.

Tentu bukan hal yang mudah menjadi bagian dari komunitas seperti gambaran di sinetron India tersebut. Tinggal bersama dalam satu rumah, berbagi dalam berbagai hal dari makan, kegiatan, hiburan, bersama banyak karakter yang tidak semuanya akan sejalan dalam berpendapat, berpandangan atau memilih kesenangan karena perbedaan latar belakang, pendidikan, kemampuan dan pengetahuan. Membutuhkan kemampuan yang baik dalam menjaga kebersamaan dan juga memiliki kemampuan berkomunikasi dan pemahaman etika atau tata krama dalam menghadapi suatu permasalahan. Belum lagi potensi masuknya budaya-budaya baru yang terbawa oleh anggota-anggota baru yang berasal dari luar keluarga besar tersebut, yang terkadang bisa berbenturan dengan budaya yang telah lama ada. Kesiapan para penegak budaya dalam keluarga atau komunitas, biasanya yang tertua, harus bijaksana menangani semua itu. Jadi, jika ada dari kita memiliki atau berada dalam situasi tersebut, maka beberapa hal berikut dapat menjadi pegangan bagi Anda untuk bisa bertahan, bersosialiasi dengan baik dan menjadi panutan dari lingkungan komunitas kita.

Etika dalam kehidupan bermasyarakat
Etika dalam kehidupan bermasyarakat (Ilustrasi/pixabay)

Pertama ialah kesadaran bahwa kita merupakan bagian dari lingkungan komunitas kita. Bagaimanapun, kita membutuhkan lingkungan komunitas tempat kita tinggal untuk hidup, bersosialisasi, mendapatkan identitas dan status (terkait kependudukan) yang sah. Selain merupakan mahluk pribadi, manusia juga mahluk sosial yang membutuhkan komunitas atau masyarakat, dimana ia bisa bergantung dan bertahan hidup. Manusia membutuhkan orang lain untuk menjadi dirinya dan diakui keberadaannya, menilai dan dinilai oleh orang-orang di sekitarnya. Maka bersyukurlah dapat menjadi bagian dari sebuah komunitas, bagaimanapun apa adanya komunitas yang kita punya. Beragam individu, berbagai keahlian, berbagai sifat dan karakter yang ada di dalamnya. Bisa dibayangkan jika kita tidak memiliki komunitas, betapa sepi dan terlunta kehidupan kita, tidak ada teman berbagi, tidak ada uluran tangan, tidak ada yang menunjukkan seberapa kita berhasil atau berkembang. Menghargai dan menghormati adat istiadat serta budaya di lingkungan komunitas kita, merupakan wujud rasa terima kasih dan syukur kita menjadi bagian dari sebuah komunitas.

Kedua, memahami bahwa setiap pribadi atau individu itu unik. Bahkan diri kita sendiri memiliki kepribadian yang unik dan belum tentu sama dengan orang lain. Sebuah komunitas yang terdiri dari seribu orang, maka akan ada seribu karakter ada di dalamnya. Tidak ada salahnya untuk mengenal baik anggota dari komunitas kita, mengerti keunikan mereka, apalagi kalau mereka kebanyakan masih memiliki latar belakang kekeluargaan atau satu keturunan. Seperti pepatah mengatakan, tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta. Keeratan hubungan diawali dengan saling mengenal satu sama lain untuk bisa saling melengkapi dan bukan untuk saling menyaingi. Sebagai contoh, jika kita mengenal semua orang di lingkungan kita, suatu saat terjadi sesuatu yang dapat membahayakan anak-anak di lingkungan tersebut, maka warga lain akan siap swaktu-waktu diperlukan untuk melakukan pengawasan atau membantu. Dengan demikian menciptakan rasa aman di dalam lingkungan komunitas.

Ketiga, berbahagia dengan kelebihan atau keberhasilan orang lain dan berempati dengan kekurangan yang ada pada mereka. Selalu ingat slogan, percaya 50% dengan apa yang Anda lihat, 0% untuk apa yang Anda dengar. Artinya, bahkan sesuatu yang kita lihat, belum tentu demikian kenyataannya apalagi hanya mendengar dari pihak ketiga yang sarat dengan berbagai kepentingan dan bumbu-bumbu tambahan cerita. Orang selalu senang jadi orang pertama yang mengetahui sesuatu informasi dan mengambil peran, secara sukarela, untuk menyampaikannya. Maka sebaiknya menjaga berita-berita yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya, salah menyebar berita Anda akan disangka melakukan perusakan nama baik dan yang terlebih lagi bisa hidup dengan rukun bersama warga komunitas yang lain. Terlebih lagi jika ditambah dengan menyimpan rasa iri hati, hal itu tidak sehat untuk tubuh kita selayaknya, malahan bisa menjadi penyakit yang bisa menggerogoti tubuh dan jiwa kita. Merasa bahagia untuk kebahagian orang lain akan memastikan hati yang damai, hidup yang tenang dan panjang umur.

Terakhir ialah, senantiasa menilai seseorang tidak semata dari kekayaan atau kebendaan yang dimilikinya. Tidak silau dengan kekayaan orang lain atau iming-iming mendapatkan uang yang banyak dengan mudah, akan menjaga keutuhan dari sebuah komunitas. Jika semua hal dapat dinilai dengan materi maka di sanalah perpecahan akan dimulai, sehingga rasa aman dan nyaman akan terkikis. Nilai sejati dari seseorang ialah budi pekerti dan wawasannya, yang mampu membuka kegelapan dan memberikan penerangan. Seorang panutan bukanlah yang menguasai kekayaan yang melimpah semata, namun yang memiliki kepedulian untuk menyediakan tempat yang nyaman dan aman untuk sesamanya. Seseorang tersebut  memiliki kepekaan sosial yang tinggi.

Menjaga solidaritas di dalam komunitas merupakan kewajiban setiap warga komunitas tersebut. Sejarah bangsa Indonesia telah kenyang dengan berbagai daya fanatisme kesukuan, ras dan kepercayaan tertentu yang mampu memecah belah bangsa. Saat ini, beberapa daerah di Indonesia sedang bersiap-siap untuk melakukan pemilihan pemimpin daerah, menandai gambaran tantangan-tantangan di masa depan tentang rasa sportifitas dan egaliter untuk menjaga kebersamaan. Karena komunitas merupakan bagian dari masyarakat, dan masyarakat merupakan bagian dari negara, sebaiknya selalu menjaga kebersamaan di dalam komunitas kita untuk menjaga keutuhan bangsa.

Sampaikanlah walaupun SATU AYAT! Anda bisa mengirimkan informasi bermanfaat kepada para pembaca kami melalui email atau Whatsapp ke 081355077575

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

eighteen + six =