by

Menentang Kekerasan Berkedok Agama

Menentang Kekerasan Berkedok Agama 2Gerakan akar rumput #Indonesia Tanpa FPI mengeluarkan somasi menuntut reformasi di tubuh kepolisian Indonesia. Mereka dinilai gagal karena membiarkan kekerasan yang mengatasnamakan agama. Aksi kelompok akar rumput yang mengandalkan kekuatan jejaring sosial ini menandai babak baru dalam upaya menciptakan toleransi keberagaman di Indonesia.

“Dalam berbagai kekerasan terhadap kelompok minoritas, kami melihat adanya patron. Polisi membiarkan pemaksaan kehendak melalui kekerasan. Korban, mereka yang diserang, yang semestinya dilindungi, justru disuruh pergi. Polisi justru mematuhi kelompok yang melakukan kekerasan,” demikian tutur Tunggal Pawestri, salah satu koordinator Gerakan #Indonesia Tanpa FPI #Indonesia Tanpa Kekerasan yang mensomasi kepolisian Indonesia.

Lebih dari 1200 orang menandatangani somasi yang disebarluaskan melalui jejaring sosial Facebook, Twitter dan blog. “Semua orang yang mendukung somasi ini bersedia menyerahkan fotokopi KTP untuk mendukung semua upaya guna menghentikan kekerasan. ”

Somasi yang diajukan ke Mabes Polri Kamis (10/5/2012) pukul 13.00 WIB itu berisi tuntutan reformasi dalam tubuh kepolisian dan agar polisi menjalankan tugas sesuai dengan amanat undang-undang. “Jika dalam dua minggu ke depan masih ada pembiaran atas kasus-kasus kekerasan dan intimidasi atas nama agama maka kami akan menempuh ranah hukum baik hukum perdata maupun pidana.”

Protes
Somasi ini dikeluarkan sebagai bentuk protes atas kinerja polisi dalam menangani berbagai aksi kekerasan yang dilakukan ormas-ormas berkedok agama yang beberapa hari terakhir ini terjadi di berbagai tempat di Indonesia.

Pembubaran diskusi yang menghadirkan penulis lesbian Muslim dari Kanada, Irshad Manji di Jakarta dan Yogyakarta hanyalah satu dari rentetan aksi FPI dan ormas sejenis.

“Tercatat dalam kurun waktu tiga hari berturut-turut telah terjadi beberapa kali peristiwa kekerasan atas nama agama dan pembiaran yang dilakukan oleh pihak kepolisian, seperti yang terjadi pada saat pembubaran diskusi di salihara, serta pemukulan terhadap aktifis sejuk oleh pada saat peliputan ibadah HKBP Piladelphia,” demikian tertulis dalam somasi yang bisa diakses online melalui situs Gerakan #Indonesia Tanpa # Indonesia Tanpa Kekerasan.

The silent majority menuntut
Pelopor somasi adalah gerakan akar rumput yang menamakan diri #Indonesia Tanpa FPI #. Siapakah mereka?

“Kami adalah warga biasa, bukan aktivis, yang prihatin atas munculnya berbagai aksi kekerasan yang mengatasnamakan agama,” jelas Tunggal dalam wawancara dengan Radio Wereldomroep. Munculnya Gerakan #Indonesia Tanpa FPI# ini bisa jadi awal munculnya protes dari kelompok yang sering disebut sebagai the silent majority, kelompok mayoritas di Indonesia yang menentang berbagai aksi kekerasan yang dilakukan oleh ormas berkedok agama seperti FPI.

Selama ini, media sosial seperti Facebook dan Twitter menjadi tempat “aman” bagi kelompok mayoritas ini untuk mengeluarkan amarah dan protes mereka atas berbagai kekerasan yang dilakukan oleh FPI terhadap kelompok minoritas dengan mengatasnamakan agama.

Terinspirasi oleh penolakan warga Kalimantan awal tahun ini atas pendirian cabang FPI di sana muncullah gagasan mengkoordinir aksi menentang berbagai kekerasan oleh ormas berkedok agama.

“Kalau masyarakat Dayak bisa kenapa kita tidak?” kata Tunggal. “Kami lalu berpikir kenapa tidak kita bikin gerakan yang konkrit. Tidak hanya posting-posting saja tapi kita lakukan sesuatu.” Para pendukung gerakan ini beragam mulai dari mahasiswa, karyawan, aktivis sampai seniman.

Melalui blog, Facebook dan Twitter mereka menjalin komunikasi.

Gerakan #Indonesia Tanpa FPI# Indonesia Tanpa Kekerasan mulai dikenal luas ketika mereka menggelar protes damai di Jakarta pada 14 Februari 2012 lalu. Ratusan orang turun ke jalan dan menyuarakan aspirasi penolakan mereka terhadap FPI dan organisasi-organisasi yang memakai kekerasan dan mengatasnamakan agama.

“Banyaknya dukungan yang muncul membuat kami optimis untuk meneruskan aksi ini,” jelas Tunggal.

Bukan FPI-nya tapi kekerasannya
Walau gerakan ini secara eksplisit menentang FPI, mereka menolak kalau dibilang mempromosikan pembubaran FPI.

“Kesepakatan kita pakai nama itu hanya untuk menarik perhatian media. Kita tetap menghormati kebebasan berserikat dan berkumpul. Dari sejarahnya yang kita tentang adalah kekerasan. Tagline kita selalu #Indonesia tanpa FPI. #Indonesia tanpa kekerasan.”

Gerakan yang muncul dari media sosial ini punya satu tujuan yaitu menolak aksi kekerasan yang mengatasnamakan agama. Menurut Tunggal, gerakan ini merupakan langkah yang besar.

“Kita secara terbuka menentang kekerasan yang dilakukan oleh ormas berkedok agama.” Ribuan dukungan yang muncul atas aksi somasi terhadap kepolisian menunjukkan bahwa gerakan ini punya potensi untuk terus berkembang.

“Para pendukung gerakan ini bisa menjadi agen-agen toleransi. Sekarang tinggal bagaimana kita menyisiri berbagai dukungan ini,” kata Tunggal.

Sumber: Ranesi?

Bagagaimana pendapat Anda?

Informasi ini masuk dalam bahasan:

- 10 program moniter polri - media berkedok agama - tanggapan seseorang tentang kekerasan berkedok agama

Tentang Penulis: Summase Sanjaya

Founder of Media Monitoring Club - Aktif mendengarkan siaran SW dari tahun 1996 hingga 2006. Pernah menjadi Program monitor Radio Jepang NHK World dari tahun 2001-2010, Technical Monitor KBS World Radio, Technical Monitor Radio Taiwan International, dan Technical Monitor Radio Deutsche Welle. Kini sedang menjadi blogger aktif untuk beberapa blog, termasuk blog Media Monitoring Club Ini.
Sampaikanlah walaupun SATU AYAT! Anda bisa mengirimkan informasi bermanfaat kepada para pembaca kami melalui email atau Whatsapp ke 081355077575

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

nine − seven =