by

Khutbah Jumat Ramadhan Terbaik 2018

Inilah contoh Khutbah Jumat Ramadhan Terbaik 2018:

Alhamdulillahi robbil alamin. Assholatu wassalamu ‘ala asyrafil anbiyai wal mursalin, sayyidina muhammadin wa’ala aalihi washohbihi ajma’in. Yaa ayyuhal ladzina Aamanu kutiba ‘alaikumusshiyamu kama kutiba ‘alalladzina min qoblikum la’allakum tattaqun.

Hadirin sidang jum’at yang dirahmati Allah.

Pertama, marilah kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT, yang telah memberikan rahmat serta hidayah-Nya sehingga kita dapat berkumpul di tempat ini dalam keadaan sehat wal ‘afiat. Nikmat besar yang patut selalu kita syukuri adalah nikmat sehat ini sehingga dengan ini kita bisa menjalankan ibadah kepada Allah SWT, seperti puasa ramadhan yang saat ini kita jalani.

Sholawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, panutan kita, umat islam seluruh alam. Mudah-mudahan kita semua dapat meneladani beliau baik dalam bersikap, bertutur kata, serta berkeyakinan.

Dalam kesempatan Jumat ini, khatib berwasiat serta mengajak kepada semua hadirin yang hadir di sini untuk selalu memaksimalkan diri agar menjadi golongan muttaqin, yaitu orang-orang yang mendekatkan diri pada Allah SWT.

Hadirin sidang jumat rahimakumullah

Bulan Ramadhan adalah bulan yang teramat istimewa. “Ramadhan” secara bahasa berasal dari kata”ra-ma-dha” yang artinya panas menyengat, teriknya panas matahari, panasnya batu. Dengan demikian, ramadhan artinya “membakar” yang mana hal ini sesuai dengan hakikatnya yaitu sekalipun di siang hari sangat panas, namun umat islam yang menjalankan puasa tetap tidak boleh makan dan minum. Jika diartikan lebih dalam, ramadhan ini adalah untuk “membakar” dosa yang sudah kita lakukan sebelumnya. Umat muslim yang berpuasa di bulan ramadhan ini tentunya menahan lapar, panas, dan haus. Panas yang dirasakan saat berpuasa ramadhan tentu berbeda dengan panas di hari biasa. Hal ini adalah simbol membakar dosa-dosa kita.

Di bulan Ramadhan ini adalah waktu yang tepat untuk kita memaksimalkan dan melatih diri untuk menjadi hamba-hamba Allah yang bertaqwa. Seperti dalam firman Allah dalam (QS. Al Baqarah: 183). Di dalam surat Al Baqaah tersebut, tujuan diperintahkannya puasa adalah untuk menjadi insan yang bertaqwa. Sebenarnya apa makna taqwa? taqwa yang sebenarnya adalah suksesnya kita, hamba Allah dalam menjalankan fungsi kehambaan pada Allah SWT. Hal ini seperti yang disebut dalam (QS. Al- Dzariyat :56) bahwa manusia dan jin diciptakan hanyalah untuk menyembahNYA. Jadi, jelas bahwa tujuan diciptakannya manusia ini adalah untuk beribadah kepada Allah.

Manusia adalah untuk beribadah, untuk menghambakan diri, untuk menyerahkan diri hanya kepada Allah secara totalitas. Jika dinyatakan dalam bentuk garis vertikal, maka posisi manusia berada di bawah dan posisi Pencipta di atas. Yang membutuhkan penyembahan ini adalah manusia itu sendiri, sementara Allah Sang Pencipta adalah Dzat yang tidak berkebutuhan. Justru manusia lah yang membutuhkan. Oleh karena itu, manusia dapat dikatakan berhasil ibadahnya jika ia mampu memanivestasikan nilai ibadah tersebut ke dalam ranah sosial.

Hadirin sidang juma’at yang berbahagia

Betapa banyak manusia yang berpuasa, namun mereka hanya mendapatkan rasa lapar dan haus saja. Mengapa bisa demikian? hal ini dikarenakan antara pikiran, lisan, dan gerakannya tidak dapat dijaga dengan baik. Orang yang berpuasa hendaknya juga menahan sifat-sifat atau perilaku tidak baik yang dapat dilakukan oleh anggota tubuh, misalnya mengumpat, mencaci-maki, ghibah, dll. Tidak hanya itu, orang yang berpuasa hendaknya juga menunjukkan bagaimana sikap kasih sayangnya terhadap orang lain, menghormati, dan saling menghargai.

Hadirin sidang Jumat rahimakumullah

Demikianlah khutbah jumat kali ini, semoga dapat memberikan manfaat kepada semuanya. Semoga kita semua senantiasa diberikan kesehatan, umur panjang dan keberkahan dalam hidup sehingga kita dapat menjalani ibadah di bulan ramadhan ini dengan maksimal dengan harapan kita bisa menjadi orang yang muttaqin.

Barakallahu lii walakum fiil qur’anil ‘adhiim wa nafa’anii wa iyyaakum bimaa fiihi minal ayaati wa dziikril hakiim wa taqabbala minnii wa minkum tilaawatahu innahuu huwas samii’ul ‘aliim.

Demikianlah contoh Khutbah Jumat Ramadhan Terbaik 2018, semoga bermanfaat.

Tentang Penulis: Summase Sanjaya

Founder of Media Monitoring Club - Aktif mendengarkan siaran SW dari tahun 1996 hingga 2006. Pernah menjadi Program monitor Radio Jepang NHK World dari tahun 2001-2010, Technical Monitor KBS World Radio, Technical Monitor Radio Taiwan International, dan Technical Monitor Radio Deutsche Welle. Kini sedang menjadi blogger aktif untuk beberapa blog, termasuk blog Media Monitoring Club Ini.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *