by

Kebebasan Pers, Musuh Pemerintah Suriah

Simbol Kebebasan Pers
Gambar Simbol Kebebasan Pers

Setiap tahun organisasi Reporters Without Borders menempatkan Suriah di peringkat paling bawah daftar negara yang memiliki kebebasan pers. Kini rejim Baath, yang menghadapi gelombang protes, tak hanya mengintimidasi warga, tapi semakin ketat menyensor berita.

Berita siang di televisi Suriah.
Di hadapan kamera seorang pemuda mengaku, ia anggota kelompok Islam radikal. Ia telah mengorganisir demonstrasi anti pemerintah untuk memicu kerusuhan. Semua media pemerintah dan swasta harus mempublikasi versi resmi ini. Namun apa yang sebetulnya terjadi di kota-kota Dara’a atau Banyas, sulit dipastikan. Laporan independen tidak mungkin didapatkan. Media asing hanya bisa mengacu pada video-video yang dibuat oleh peserta aksi dan masyarakat setempat. Atau lewat telefon, mewawancarai penduduk setempat, yang mengatakan bahwa semakin banyak warga yang turun ke jalan menentang rejim Baath. Sementara penguasa bereaksi dengan kekerasan, penangkapan dan sensor.

Di Beirut, Pusat Kebebasan Media dan Budaya, Skeyes, setiap bulannya menghimpun pelanggaran-pelanggaran terhadap kebebasan pers di Suriah.

Dalam laporan terakhir Skeyes, tercatat penangkapan blogger muda Wassim Hassan dan Khalid al-Mubarak pertengahan April 2011 lalu. Menurut televisi Al Jazeera, aktivis HAM Mahmoud Issa juga ditangkap pasukan keamanan. AlJazeera dan juga televisi Al-Arabiya mendapat peringatan dari pemerintah Suriah ketika memberitakan tentang rangkaian demonstrasi yang berlangsung. Saad Kiwan memperkirakan, sekitar 300 jurnalis, blogger dan penulis sudah ditahan.

Ancaman penangkapan juga dihadapi Mazen Darwish, yang memimpin Pusat Kebebasan Media dan Pendapat di Damaskus. Ia dilarang meninggalkan negara itu, dan kerap dipanggil oleh Badan Intelijen Suriah untuk diinterogasi. Meski terus diintimidasi, ia tetap berusaha menerbitkan sejumlah laporan. Salah satu kritiknya adalah bahwa tak ada undang-undang di Suriah yang memberikan jaminan bagi media untuk mengumpulkan dan menyebarkan informasi. Selain itu, bagai berada di lahan yang penuh ranjau, para jurnalis harus berhati-hati mengenai apa yang ditulisnya. Banyak tema yang tak disoroti.

Khalil Suwailih bertanggung jawab untuk halaman sisipan di korannya, yang berisikan tema budaya. Dalam kolomnya, ia menulis mengenai perkembangan media sosial dalam konteks perubahan di negara-negara Arab. Ia tidak membahas situasi di Suriah secara langsung, namun pendapatnya bisa dibaca di sela-sela kalimat.

Sumber: DW/Mona Naggar/Edith Koesoemawiria
Editor: Vidi Legowo

Informasi ini masuk dalam bahasan:

- KEBEBASAN

Tentang Penulis: Summase Sanjaya

Founder of Media Monitoring Club - Aktif mendengarkan siaran SW dari tahun 1996 hingga 2006. Pernah menjadi Program monitor Radio Jepang NHK World dari tahun 2001-2010, Technical Monitor KBS World Radio, Technical Monitor Radio Taiwan International, dan Technical Monitor Radio Deutsche Welle. Kini sedang menjadi blogger aktif untuk beberapa blog, termasuk blog Media Monitoring Club Ini.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *