by

Kartu Hijau Sportivitas

Cristian Galano jadi pembicaraan belakangan ini dalam beberapa pemberitaan olahraga dan juga media sosial. Pemain penyerang yang membela kesebelasan Vincenza di kompetisi seri B Italia ini, menjadi pemain sepakbola pertama penerima kartu hijau dalam pertandingan olahraga paling digandrungi masyarakat sedunia tersebut. Ceritanya tim Galano sedianya mendapatkan tendangan pojok, namun Galano dengan sportif meluruskan kejadian yang sebenarnya kepada wasit dan kembali ke tengah lapangan. Tidak silau dengan kesempatan emas yang mungkin bisa menambah peluang kemenangan timnya, justru Galano menunjukkan keberaniannya berbuat jujur di permainan yang rentan dengan intrik dan polah pemain sepakbola yang sering bahkan sengaja mengambil keuntungan sendiri.

Sejak diperkenalkan pada awal tahun 2016, kartu hijau menjadi bentuk kecemasan pengelola dan pecinta olah raga sepakbola, dimana banyak ditemukan indikasi tindakan-tindakan melanggar permainan yang ‘fair play’ sehingga menarik minat masyarakat dari arena laga-laga rutin. Kartu ini juga dimaksudkan dapat membawa pesan positif untuk permainan sepakbola yang sportif sekaligus memotivasi pemain untuk bermain jujur.

Yang dapat disimpulkan dari kejadian tersebut ialah, olahraga sangat erat kaitannya dengan sportivitas, karena banyak yang menyaksikan saat dua kubu petanding saling adu kekuatan dan kemampuan. Di dalam kegiatan olahraga, seseorang dapat mengenali kekurangannya, sehingga dapat mengakui dan menerima kemenangan lawan atau orang lain.

Kartu hijau sepak bola
Kartu hijau sepak bola (Ilustrasi/pixabay)

Berbagai kompetisi olahraga bisa saja dimanfaatkan oleh sekelompok orang-orang untuk mendapatkan keuntungan, dari level lokal hingga level internasional, tidak mau kalah mencoba berbagai cara yang kurang terpuji dan mencederai jiwa sportivitas dalam kegiatan olahraga.

Even yang paling dekat dan baru saja selesai di negara kita, yaitu pelaksanaan Pekan Olahraga Nasional 2016 di Bandung, masih menyisakan ingatan akan insiden-insiden yang diduga akibat permainan yang tidak jujur. Meskipun demikian, semangat baru dalam olahraga kembali dibangkitkan lewat pagelaran empat tahunan sekali tersebut. Menandai kebangkitan tersebut, penghargaan terhadap atlit juga makin diperhatikan, mulai dari fasilitas hingga hadiah-hadiah. Laksana pejuang, seorang atlit mewakili daerah ataupun negaranya untuk menunjukkan kemampuannya di depan lawan; secara normatif seperti dalam sebuah perang tanding, ia ada untuk membela harga diri dari yang diwakilinya.

Sportivitas sangat penting dalam hidup yang penuh dengan kompetisi seperti era sekarang ini. Mungkin hampir setiap hari manusia senantiasa berkompetisi, bahkan kita lahir ke dunia ini merupakan hasil dari sebuah kompetisi ribuan sel pembuahan untuk sampai ke sel pembuahan. Tidak heran jika manusia selalu berkompetisi dalam berbagai hal, dalam mendapatkan semua kebutuhannya termasuk martabat dan harga dirinya. Untuk memberikan nilai positif dalam kompetisi tersebut, maka ada yang namanya sportivitas.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, sportivitas berarti sikap adil atau jujur terhadap lawan. Sikap yang ditunjukkan dengan bersedia mengakui keunggulan, kekuatan atau kebenaran lawan dan mengakui kekalahan, kelemahan atau kesalahan sendiri. Kata kunci sportivitas ialah kejujuran dan kebesaran hati untuk menerima kekalahan. ‘Practice make perfect’, segala hal yang dilatih dengan tekun maka akan mencapai kesempurnaan. Dengan banyak berlatih, kita dapat mengerti kelemahan dan belajar bagaimana memperbaikinya untuk mencapai yang terbaik. Demikianlah caranya untuk menang dan bukan mencari jalan pintas yang gampang, karena hanya akan merusak karakter dan citra kita sendiri.

Apalagi para atlit sekarang bisa berbangga dan menggantungkan harapannya lewat olahraga, bukankah tidak main-main hadiah yang disediakan pemerintah sebagai penghargaan atas kemenangan-kemenangan di ajang kompetisi antar daerah atau antar negara? Semoga hal ini meningkatkan minat masyarakat Indonesia untuk dunia olahraga sekaligus menggiatkan sportivitas tidak saja di dalam olah tanding namun juga pengamalan di kehidupan sehari-hari.

Semangatkan senantiasa kejujuran dalam berkompetisi, mengutamakan tindakan-tindakan yang mengedepankan ‘fair play’, maka kehidupan bangsa dan bernegara akan dengan cepat berkembang dan memberikan kebaikan serta pemerataan kesejahteraan sosial.

Sampaikanlah walaupun SATU AYAT! Anda bisa mengirimkan informasi bermanfaat kepada para pembaca kami melalui email atau Whatsapp ke 081355077575

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

7 + twenty =