by

Garin Nugroho Tegaskan Soegija Bukan Film Agama

Garin Nugroho Tegaskan Soegija Bukan Film Agama 2Di saat bioskop sedang sepi dengan film bermuatan sejarah, Soegija muncul sebagai satu-satunya film nasional yang dituturkan dengan pendekatan sejarah popular-romantis.
Film ini mengisahkan tentang Romo Soegijapranata, yang diangkat Vatikan sebagai uskup pribumi pertama di Indonesia.
Banyak orang mengira film yang disutradarai Garin Nugroho merupakan film tentang agama. Hal ini langsung dibantah Garin. Ia mengatakan, film ini lebih bercerita dalam konteks humanis.
“Sejarah kan punya beragam kepemimpinan, termasuk kepemimpinan uskup. Soegija merupakan salah satu pahlawan nasional,” ujar Garin pada jumpa wartawan di Ciwalk XXI Lounge, Minggu (10/6/2012) sore.

Di jajaran pemain, ada Nirwan Dewanto sebagai Soegija, Annisa Hertami sebagai Mariyem, Butet Kartaredjasa sebagai Koster Toegimin, Wouter Braaf sebagai Hendrick, Wouter Zweers sebagai Robert, Nobuyuki Suzuki sebagai Suzuki, Andrea Reva sebagai Ling Ling, Olga Lydia sebagai mama Ling Ling, dan masih banyak pemain lainnya.

Film ini mengisahkan kondisi Indonesia pada 1940 hingga 1950, saat terjadi penjajahan Belanda, pengambil alihan kekuasaan oleh Jepang, proklamasi kemerdekaan, hingga pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Belanda.
Soegija yang diangkat menjadi pemimpin umat Katolik kala itu, ikut berjuang dengan silent diplomacy-nya. Ia melakukan perundingan damai yang melibatkan Sekutu, Jepang, dan Indonesia di tengah perang yang terus berlangsung.
Ia pun berkomunikasi dengan pimpinan Indonesia seperti Syahrir dan Soekarno. Di sisi lain, ia pun mendukung gerakan pemuda untuk melakukan pelayanan sosial kepada masyarakat.
Tapi, film ini bukan sekadar mengisahkan perjuangan Soegija seorang. Banyak tokoh lain dengan permasalahannya masing-masing. Betapa kejamnya perang hingga harus memisahkan mereka dengan orang yang mereka kasihi.
Ada Mariyem, seorang wanita muda yang bercita-cita menjadi perawat, yang harus terpisah dengan sang kakak; Suzuki, serdadu Jepang yang merindukan anaknya; dan Robert, serdadu Belanda yang berhati dingin.
Ada pula Hendrick, fotografer Belanda yang terjebak dalam perang dan cinta; Ling Ling, gadis cilik keturunan Tionghoa yang harus terpisah dengan sang ibu; dan kisah kemanusiaan lain yang dibalut dalam drama dengan unsur komedi di beberapa bagian.

Film kolosal yang menghabiskan dana hingga Rp 12 miliar memang terbilang luar biasa. Setting tempat zaman penjajahan dengan lebih dari 2.700 pemain figuran, sengaja dihadirkan untuk menghidupkan suasana.
Pemeran serdadu Jepang dan Belanda adalah pemain asli dari kedua negara itu, yang di-casting langsung di negara masing-masing.
Pemilihan lagu-lagu dan musik dalam film ini pun tidak main-main. Djaduk Ferianto yang menjadi penata musik sekaligus produser Soegija tidak hanya memasukkan lagu-lagu kebangsaan, tapi juga memasukkan unsur lagu-lagu yang sedang popular di masa itu.
Salah satu yang menjadi keunikan di film ini adalah tiga bahasa yang digunakan, Jawa, Belanda, dan Inggris.
Dibandingkan dengan karya Garin Nugroho lain, film berdurasi 115 menit terbilang lebih naratif. Hal ini, menurutnya merupakan sesuatu yang sudah disesuaikan dengan tujuan.
“Tujuan dari film ini kan untuk menginspirasi masyarakat. Metode naratif itu memang metode yang paling efektif,” jelasnya.
(TribunNews)

Informasi ini masuk dalam bahasan:

- nobuyuki suzuki agama

Tentang Penulis: Summase Sanjaya

Founder of Media Monitoring Club - Aktif mendengarkan siaran SW dari tahun 1996 hingga 2006. Pernah menjadi Program monitor Radio Jepang NHK World dari tahun 2001-2010, Technical Monitor KBS World Radio, Technical Monitor Radio Taiwan International, dan Technical Monitor Radio Deutsche Welle. Kini sedang menjadi blogger aktif untuk beberapa blog, termasuk blog Media Monitoring Club Ini.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

13 − 12 =