by

EURO 2016 : Sebuah Passion Bernama Cinta

Ketika Floyd Mayweather mengalahkan Manny Pacquiao melalui perhitungan poin tahun lalu di MGM Grand, kritik deras mengalir dari para penikmat tinju. Mereka kecewa karena menganggap Mayweather yang dianggap hanya bertahan saja selama 12 ronde pertandingan, mampu memenangkan pertandingan tinju yang katanya paling akbar di abad ini. Hal yang sama terjadi di Inggris. Para penikmat Barclays Premier League pada tahun itu meradang, karena Chelsea, yang terkenal akan praktik parkir bisnya di depan gawang, akhirnya berhasil menjuarai liga pada akhir musim.

Ketika mereka tidak mencoba untuk bermain dan cuma bertahan, bertahan, bertahan. Menurut saya ini menunjukkan mental tim kecil. Mereka menaruh bus di depan gawang, jadi sulit ketika satu tim tidak mencoba untuk bermain. Tapi kami bermain dan mencoba memenangi pertandingan,”

Euro 2016
Euro 2016 (Gambar: Pixabay)

Euro 2016. Kalimat diatas merupakan ungkapan kekesalan Cristiano Ronaldo baru-baru ini ketika Portugal berhasil ditahan imbang 1-1 oleh Islandia pada pertandingan pertamanya di Piala Eropa 2016. Dengan mengucapkan kalimat di atas, Ronaldo secara terang-terangan mengungkapkan bahwa ia tidak menyukai strategi defensif yang kerap diterapkan Islandia demi memperoleh kemenangan, ataupun sekedar hasil imbang.

Cristiano Ronaldo merupakan seorang pemain sepakbola yang selama sepuluh tahun terakhir bermain untuk dua klub terbesar di dunia, Real Madrid dan Manchester United. Ia sudah memenangkan segalanya. Jumlah follower di akun media sosalnya bahkan puluhan kali lipat lebih banyak bila dibandingan dengan jumlah total penduduk Islandia. Tak perlulah ditanyakan lagi soal ekspektasi, ego, dan mentalitas pemenang yang dimilikinya. Pola pikir dan sudut pandangnya sebagai seorang bintang dari negara sepakbola yang besarlah yang mendorong dia mengucapkan kalimat itu ketika gagal mengalahkan “lawan kecil” yang ngotot untuk meraih kemenangan dengan menghalalkan segala cara (termasuk bertahan total) selama 90 menit.
Namun baliklah sudut pandang itu, cobalah melihat persoalannya dari sisi yang berbeda. Lihatlah dari sudut pandang “si lawan kecil” itu,

Piala Eropa 2016 merupakan turnamen antar negara Eropa pertama yang menyertakan 24 negara sebagai peserta kompetisi. Sebelumnya, Piala Eropa hanya menyertakan 16 negara saja. Tak pelak, hal ini berpengaruh kepada negara-negara kecil di Eropa yang memiliki kans lebih besar untuk berpartisipasi di turnamen ini. Tercatat, setidaknya ada 6 “tim kecil” yang berhasil lolos ke Prancis (Islandia, Wales, Irlandia, Irlandia Utara, Turki, dan Ukraina) . Beberapa dari mereka bahkan baru pertama kali merasakan kompetisi tertinggi antar negara di Benua Eropa itu.

Pada prosesnya, tim-tim kecil inilah yang akan menghadapi negara-negara besar yang menjadi kiblat sepakbola dunia: Spanyol, Inggris, Portugal, Jerman, Italia, Prancis, atau Belgia. Sampai disini, tak perlulah pintar-pintar menjadi analis sepakbola untuk memprediksi nasib mereka di kompetisi ini.

Negara-negara kecil ini, kemungkinan besar mereka tidak akan bertahan lama.

Maka marilah kita berbicara soal strategi yang realistis supaya negara-negara kecil ini setidaknya mampu menahan negara-negara besar di atas. Dan pada titik inilah, strategi “bertahan total dan menyerang dengan serangan balik” akan terlihat realistis. Di atas kertas, mereka tidak akan bertahan lama jika memainkan pertandingan yang terbuka melawan bintang-bintang kelas dunia yang punya segalanya: mental, ego, teknik, kecepatan, determinasi, pengalaman, hingga kemampuan yang tidak masuk akal dalam mengolah bola. Itulah hal-hal yang secara mutlak, tak tertandingi. Yang tersisa untuk mereka ialah semangat, passion, dan kemampuan bertahan yang baik.

Pada fase grup, dapat terlihat dengan jelas bahwa negara-negara kecil ini berjuang sekuat tenaga dengan apa yang mereka punya untuk setidaknya bertahan agar tidak tersingkir. Islandia mampu menahan imbang Portugal dan Hongaria, Portugal sendiri tak mampu berbicara banyak setelah dua kali berturut-turut ditahan imbang oleh Islandia dan Austria. Inggris secara mengejutkan dua kali pula ditahan imbang oleh Rusia dan Slovakia. Tentu ada pula banyak pertandingan yang berakhir dengan kekalahan, namun sebagian besar kekalahan itu baru terjadi pada akhir pertandingan, ketika mereka sudah bertahan selama 85 menit waktu normal. Bagi fans yang mengharapkan pem***taian 4-0 ke atas ala Piala Dunia 2014 di Brazil, dan bagi penggemar sepakbola dari negara-negara besar, mungkin ini merupakan salah satu ajang sepakbola yang paling membosankan dan menyebalkan yang pernah digelar. Ucapan Cristiano Ronaldo sendiri sudah menyatakannya.

Namun bagi negara-negara kecil dan para pendukung mereka, EURO 2016 merupakan kesempatan emas bagi yang mungkin tak akan pernah datang lagi. Lolos kualifikasi merupakan sebuah prestasi yang mungkin dianggap biasa-biasa saja bagi negara sebesar Jerman atau Spanyol. Islandia merayakan hasil imbangnya melawan Portugal dengan selebrasi layaknya ketika mereka sudah menjadi juara. Inilah kesempatan mereka. Bukan kesempatan untuk menjadi juara, namun kesempatan untuk bertahan selama mungkin untuk tidak tersingkir.

Maka bagi tim-tim kecil di Eropa, setiap pertandingan merupakan final untuk bertahan., final untuk tetap melangkah. Final itu dilalui dengan kerja keras selama 90 menit yang disertai dengan gairah dan semangat yang ada. Karena jujur saja, itulah hal tersisa yang mereka punya. Itulah satu-satunya bekal untuk membela negara yang mereka punya. Karena bagi mereka, Euro 2016 merupakan kompetisi yang harus dilalui dengan passion yang bernama cinta.
Cinta untuk pendukung dan negara kecil mereka.

Informasi ini masuk dalam bahasan:

- lingeri artis - media partner radio di bandung - akal saheai youth club grand finalai 2016

Sampaikanlah walaupun SATU AYAT! Anda bisa mengirimkan informasi bermanfaat kepada para pembaca kami melalui email atau Whatsapp ke 081355077575

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

twelve + ten =