by

5 Alasan Menonton “Captain America: The Winter Soldier”

5/5 (1)

Bagi Hollywood, musim panas mungkin belum dimulai sampai Mei nanti. Tetapi, dengan kehadiran “Captain America: The Winter Soldier”, boleh jadi tahun ini pesta film tahun 2014 sudah dimulai satu bulan lebih cepat. Dengan prediksi pendapatan yang jauh lebih signifikan dibandingkan film pertamanya, “Captain America: The First Avenger” (2011), Steve Rogers (Chris Evans) akan membuktikan bahwa Marvel Studios bisa merilis film laris di waktu yang mereka tentukan sendiri.

Keputusan Kevin Feige dan timnya untuk melakukan diversifikasi genre dengan mengkategorisasikan “Captain America: The Winter Soldier” sebagai film thriller politik juga telah membuahkan hasil manis melalui ulasan-ulasan positif yang diterima oleh sekuel besutan Joe dan Anthony Russo ini. Bukan penggemar berat Captain America dan masih menimbang-nimbang apakah ini adalah film yang paling tepat untuk disaksikan akhir pekan nanti? Simak dulu poin-poin rekomendasi di bawah ini sebelum memantapkan pilihan. Berikut adalah lima alasan menonton “Captain America: The Winter Soldier”:

1. Joe dan Anthony Russo

Marvel Studios sudah berulang kali membuktikan bahwa mereka berani mengambil pilihan yang dianggap tidak biasa demi mewujudkan visi mereka yang unik. Setelah mengambil langkah awal yang tidak disangka melalui “Iron Man” (2008) yang dibuat oleh Jon Favreau, Marvel Studios terus melanjutkan tradisi untuk memasangkan film-film mereka dengan sutradara yang punya visi kuat. Kenneth Branagh mengemas “Thor” (2011) menjadi film superhero dengan konflik ala drama Shakespeare, Joss Whedon membawa humor yang khas serta dialog buatannya yang tajam dalam “The Avengers” (2012), dan “Ant-Man” (2015) akan menguji visi Edgar Wright tahun depan.

Sementara itu, dalam “Captain America: The Winter Soldier”, Marvel Studios memilih untuk menugaskan kakak beradik Joe dan Anthony Russo untuk membawa Steve Rogers ke zaman modern. Berbekal kecintaan terhadap kisah petualangan Captain America dan fokus yang sangat jelas terhadap jalan yang ingin mereka susuri dalam film sekuel ini, Joe dan Anthony Russo menghadirkan film Captain America versi mereka yang sarat dengan isu politik kontemporer, namun tetap punya ikatan kuat dengan masa lalu yang membentuk pribadi Steve Rogers. Sadar bahwa Captain America merupakan figur yang dibayangi dikotomi baik-benar dan masa lalu-masa sekarang, “Captain America: The Winter Soldier” membawa Rogers dalam dunia abu-abu yang membuat dirinya dan orang-orang di sekelilingnya hanya bisa selamat bila ia tetap berpegang teguh pada integritasnya. Ini merupakan keputusan yang sederhana namun efektif.

Meski punya plot yang terlihat kompleks, kesederhanaan pusat cerita dari “Captain America: The Winter Soldier” pada akhirnya berhasil memberi ruang yang layak untuk pengembangan karakter Rogers maupun laju dari franchise-nya sendiri, serta semesta film-film Marvel secara keseluruhan. Di tangan Joe dan Anthony Russo, kebutuhan-kebutuhan spesifik ini ternyata bisa dicapai dengan hasil memuaskan.

2. Chris Evans

Chris Evans boleh saja sudah menetapkan keputusan untuk berhenti akting dan mengejar mimpinya untuk menyutradarai film. Beberapa pihak akan menyayangkan pilihannya karena Evans selalu tampak antusias untuk menyambar peran-peran dalam film kecil demi menunjukkan bahwa ia tidak hanya punya kemampuan untuk memerankan satu tipe karakter – “Sunshine” (2007) dan “Snowpiercer” (2013) merupakan pilihan sangat menarik untuk melihat karismanya di luar film keluaran Marvel Studios. Tetapi, bila ia berhenti sekarang atau beberapa tahun lagi, para penggemar Evans harusnya sudah bisa cukup puas karena sang aktor sudah menemukan perannya yang paling komersil dan telah melambungkannya ke jajaran aktor papan atas.

Dari segi kualitas akting, Captain America sendiri juga sudah merupakan pencapaian khusus bagi Evans. Penonton mungkin melihat bahwa Captain America yang perilakunya lurus lebih mudah diperankan daripada Tony Stark (Robert Downey, Jr.) yang narsis, atau Bruce Banner (Edward Norton / Mark Ruffalo) yang punya masalah amarah serius. Meski demikian, kemampuan Evans untuk tetap menjaga karakter Captain America meski cerita, latar, dan waktu dalam filmnya sudah berubah drastis butuh konsistensi yang tidak mudah dicapai.

Evans yang kini sudah sangat identik dengan sosok Steve Rogers mampu untuk menjaga sang karakter tetap dalam teritori familiar yang memberikan titik tengah stabil dalam Marvel Cinematic Universe. Dalam “Captain America: The Winter Soldier”, Evans menerapkan hal ini dengan sangat baik sehingga dalam keadaan apapun, penonton tetap punya kepercayaan penuh terhadap karakter, moralitas, dan filosofi sang pahlawan super.

5 Alasan Menonton “Captain America: The Winter Soldier”
Chris Evans dan Scarlett Johansson dalam Captain America: The Winter Soldier (AP Photo/Marvel-Disney)

3. Thriller Politik

Bukan kebetulan kalau cerita “Captain America: The Winter Soldier” ternyata punya benang merah yang mirip dengan “Three Days of the Condor” (1975). Secara struktur, kedua film yang sama-sama mengetengahkan paranoia yang disebabkan oleh gerak-gerik organisasi di belakang konspirasi berbahaya ini punya banyak persamaan. Ditambah lagi, keduanya juga dibintangi Robert Redford.

Pemilihan Redford mungkin awalnya hanya dibuat sebagai sebuah penghormatan karena sang aktor banyak berperan dalam thriller politik terkenal. Tetapi, dari segi akting sendiri, Redford juga merupakan sosok yang sangat tepat untuk memerankan Alexander Pierce. Pierce yang cerdas dan tenang sangat kontras bila disandingkan dengan Nick Fury (Samuel L. Jackson) yang lebih temperamental dan cepat mengambil tindakan. Kehadiran keduanya memberi nuansa lebih kaya pada jajaran petinggi S.H.I.E.L.D. yang belum banyak dikenal penonton di luar karakter Fury, Maria Hill (Cobie Smulders), ataupun Agent Coulson (Clark Gregg).

Dengan mengambil elemen-elemen dari “Three Days of the Condor”, “Captain America: The Winter Soldier” juga membuka celah bagi franchise ini untuk berkembang dan punya relevansi dengan masa sekarang. Hal ini membuat Marvel Cinematic Universe tetap punya titik tumpu yang kuat dalam realitas walaupun cerita lainnya punya banyak percabangan ke jalur fiksi ilmiah dan fantasi. Dengan tema yang lebih modern ini, penonton global juga jadi lebih memahami pergulatan Captain America karena perjuangannya merupakan sesuatu yang universal. Kini, ia tidak lagi hanya berjuang untuk negaranya, tetapi juga untuk kepentingan yang lebih besar.

4. Aksi Solid

Dalam sebuah film dengan rating PG-13, penonton sudah tahu batasan yang akan mereka nikmati dari segi aksi. Menu utamanya tentu saja biasanya merupakan adegan pertarungan besar yang mengakibatkan kehancuran hebat. Tetapi, apa lagi yang bisa ditawarkan di luar itu? Memanfaatkan kondisi Captain America yang unik, sebagai film superhero, “The Winter Soldier” memiliki rasa yang lain karena di antara rekan-rekannya, Steve Rogers merupakan salah satu pahlawan yang rasanya akan paling mudah dilukai musuh.

Dengan menggunakan kelemahan Captain America, “The Winter Soldier” justru mendapat poin lebih. Sebabnya, dalam tiap adegan aksi yang melibatkan Rogers, penonton menginvestasikan lebih banyak emosi karena sang jagoan bukanlah sosok yang tidak mungkin terluka ataupun tak terkalahkan. Untuk menghadapi serangan atau melindungi orang-orang di sekitarnya, penonton melihat bahwa Rogers harus mengeluarkan usaha ekstra yang tetap terlihat berat meski dirinya adalah prajurit super. Hal ini juga membuat pertarungan Captain America dengan musuhnya dalam skala yang lebih kecil terlihat lebih berarti dan tak hanya hadir sebagai segmen yang menjembatani satu adegan drama ke adegan lainnya.

Baik saat melawan musuh dalam perkelahian tangan kosong, melawan prajurit dengan senapan mesin, sampai armada perang dengan persenjataan canggih, tidak ada bagian yang terasa sia-sia karena tiap-tiap adegan aksi punya variasinya sendiri dalam menguji kemampuan sang protagonis. Terlebih, rekannya dalam film ini, Black Widow alias Natasha Romanoff (Scarlett Johansson), juga punya titik kerapuhan yang sama meski keduanya punya keahlian bertarung yang sangat mengesankan.

Yang juga unik, karena Joe dan Anthony Russo punya selera film yang menarik dan mereka memutuskan untuk memasukkan banyak referensi dari film-film seperti “The French Connection” (1971), “Ronin” (1998), sampai “Heat” (1995), “Captain America: The Winter Soldier” punya campuran aksi yang mengasyikkan. Apakah Anda tahu kalau “The Raid” (2011) besutan Gareth Evans juga merupakan salah satu film yang jadi inspirasi duo sutradara ini?

5. Petunjuk Untuk Phase Three

Mereka yang mengikuti Marvel Cinematic Universe dengan rajin tahu bahwa setiap film keluaran Marvel Studios wajib ditonton, selain karena kesetiaan terhadap Marvel yang selalu konstan memberikan tontonan menghibur, juga karena mengikuti film-film Marvel sama seperti sebuah perburuan untuk menyelesaikan teka-teki.

Seperti film-film lainnya, “Captain America: The Winter Soldier” juga meninggalkan cukup banyak petunjuk yang bisa digunakan untuk menerka kemana Marvel akan melanjutkan Phase Three. Apalagi, plot yang bergulir dalam sekuel Captain America ini punya implikasi yang sangat besar dan dapat menyajikan pergeseran cerita yang sangat menarik dan penuh intrik dalam film-film Marvel Studios berikutnya. Sebagai tambahan, jangan lupa untuk tidak cepat-cepat pergi meninggalkan ruangan bioskop setelah filmnya selesai, karena ada dua adegan tambahan yang akan memberi Anda petunjuk lebih banyak tentang para karakter yang akan hadir selanjutnya. (Yahoo! Celebrity)

Informasi ini masuk dalam bahasan:

- captain america first avengers dan teka teki akhirnya - captain america mengambil the raid - cinta tika2001@yahoo - film Captain America dengan judul visi ruang 2016

Tentang Penulis: Summase Sanjaya

Founder of Media Monitoring Club - Aktif mendengarkan siaran SW dari tahun 1996 hingga 2006. Pernah menjadi Program monitor Radio Jepang NHK World dari tahun 2001-2010, Technical Monitor KBS World Radio, Technical Monitor Radio Taiwan International, dan Technical Monitor Radio Deutsche Welle. Kini sedang menjadi blogger aktif untuk beberapa blog, termasuk blog Media Monitoring Club Ini.
Sampaikanlah walaupun SATU AYAT! Anda bisa mengirimkan informasi bermanfaat kepada para pembaca kami melalui email atau Whatsapp ke 081355077575

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

5 × three =