Oleh: C.R. Nurdin
Kalau Anda disodori pilihan pemerintahan tanpa surat kabar atau surat kabar tanpa pemerintahan? Presiden Amerika Serikat, Thomas Jefferson, yakin akan memilih yang kedua, lebih baik memilih surat kabar tanpa pemerintahan daripada memilih pemerintahan tanpa surat kabar.
Presiden Amerika Serikat ketiga itu, memang, dikenal sebagai pejuang kemerdekaan dan membenci tirani, membenci penjajahan pikiran manusia. Jefferson dikenal mempunyai kepercayan yang tinggi pada pers, sehingga dia lebih baik memilih surat kabar tanpa pemerintahan daripada memilih pemerintahan tanpa surat kabar. Pilihannya itu sebagai mawjud dukungan kuat terhadap eksistensi pers.
Konsistenkah Jefferson? Banyak yang tidak tahu, di tempat lain, Jefferson justru membuat pernyataan yang hampir-hampir tidak dikenal, kalau saja tidak diungkap oleh pakar komunikasi politik Steven Chaffee (1975).
Kata Jeffreson, “Seseorang yang tidak pernah membaca surat kabar, sebenarnya akan lebih bijak jika dibadingkan dengan mereka yang membaca surat kabar. Mereka tidak tahu apa-apa. Mereka lebih dekat pada kebenaran jika dibandingkan dengan seseorang yang pikirannya dipenuhi dengan kepalsuan dan kesalahan”.
Jefferson berkepribadian ganda, split personality terhadap pers? Silakan, simak saja kedua pernyataannya yang boleh disebut bertentangan itu. Bagi Jeffreson, jadinya, “persku sayang, persku ditendang” .
Bukan saja mawjud Jeffrson yang berkepribadian terbelah, tetapi mungkin saja mawjud sikap pemerintahan Amerika Serikat terhadap pers ketika itu. Mungkin saja pula, Jefferson semula menilai “persku sayang”, tetapi ketika pers selalu mengontrolnya, pers selalu mempertanyakan kebijakannya, dan kekuasaannya tidak bisa mengendalikan pers (dan itu wajar di tengah-tengah masyarakat demokratiis) maka akhirnya Jefferson berbalik jadi “persku ditendang”.
Split Personality di Negeri Ini
Bukan saja di negara sana, kepribadian terbelah atau split personality ternyata dialami pula oleh mereka yang terlibat dalam media massa cetak dan media massa elektronik (televisi) di negeri ini.
Kesaksian Dr. Effendi Gazali (pakar ilmu komunikasi UI), Garin Nugroho (budayawan), dan Victor Menayang (ketika itu, ketua Komisi Penyiaran Indonesia), ternyata (more…)





