Setiap tahun organisasi Reporters Without Borders menempatkan Suriah di peringkat paling bawah daftar negara yang memiliki kebebasan pers. Kini rejim Baath, yang menghadapi gelombang protes, tak hanya mengintimidasi warga, tapi semakin ketat menyensor berita.
Berita siang di televisi Suriah.
Di hadapan kamera seorang pemuda mengaku, ia anggota kelompok Islam radikal. Ia telah mengorganisir demonstrasi anti pemerintah untuk memicu kerusuhan. Semua media pemerintah dan swasta harus mempublikasi versi resmi ini. Namun apa yang sebetulnya terjadi di kota-kota Dara’a atau Banyas, sulit dipastikan. Laporan independen tidak mungkin didapatkan. Media asing hanya bisa mengacu pada video-video yang dibuat oleh peserta aksi dan masyarakat setempat. Atau lewat telefon, mewawancarai penduduk setempat, yang mengatakan bahwa semakin banyak warga yang turun ke jalan menentang rejim Baath. Sementara penguasa bereaksi dengan kekerasan, penangkapan dan sensor.
Di Beirut, Pusat Kebebasan Media dan Budaya, Skeyes, setiap bulannya menghimpun pelanggaran-pelanggaran terhadap kebebasan pers di Suriah.
Dalam laporan terakhir Skeyes, (more…)






