Selayang pandang pekerja konstruksi



Pernahkah Anda membayangkan bagaimana proses rumah, kantor atau sekolah tempat Anda beraktivitas dengan berbagai fasilitas yang nyaman dibangun oleh keringat para pekerja-pekerja konstruksi. Biar panas, biar hujan, mereka menyemut di sebuah proyek pembangunan dengan jam kerja layaknya pekerja kantoran, berpanas-panas dan kehujanan dari pagi hingga malam. Tak jarang mereka juga jauh dari kehangatan keluarga dan rela tidur dengan sarana seadanya di dekat lokasi proyek supaya keesokan harinya mereka akan lebih mudah berjalan kaki menuju tugasnya.

Negara kita di bawah pemerintahan saat ini sedang memimpikan sebuah ‘grand design’ massif infrastruktur di berbagai bidang. Jalan, jembatan, gedung, pelabuhan, dan semua yang akan mampu melayani berbagai kebutuhan khususnya usaha bagi warga negara yang nantinya akan mendongkrak kemajuan perekonomian negara. Mengundang berbagai investor, menata kembali peraturan dan berbagai kemudahan untuk penanam modal yang akan diikuti dengan pemerataan pembangunan. Dan di balik semua mimpi besar itu, para pekerja konstruksi menjadi bagian yang sangat penting dalam perwujudannya.

Selayang pandang pekerja konstruksi
Selayang pandang pekerja konstruksi (Ilustrasi/dok. penulis)

Semua orang tahu, jika dunia konstruksi merupakan dunia kerja yang keras, penuh dengan tekanan dan persaingan. Semua bekerja dengan target dan waktu, karena bagi pemilik proyek, waktu adalah uang, progress menjadi penting atau mereka para kontraktor akan merugi. Saking ketatnya mereka menjaga biaya tidak menggerus modal serta mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya, terkadang kontraktor lupa akan pekerja kecil mereka yang sebenarnya merupakan garda depan bagi usahanya. Mereka seharusnya juga mendapatkan perhatian, tidak semata gaji harian dari upah keahlian mereka yang mereka dapatkan dari bergabung dengan timnya selama bertahun-tahun dan berpindah-pindah tempat.

Pendapatan di proyek memang cukup menggiurkan, untuk pekerja dengan keahlian, karena pengalaman bertahun-tahun, mereka mendapatkan upah hingga 100 ribu rupiah per harinya belum termasuk lembur; jika pekerja pembantu atau istilahnya ‘laden’ (karena ia meladeni atau melayani kebutuhan tukang/pekerja ahli layaknya asisten pribadi) bisa mendapatkan upah hingga 80 ribu per hari.

BACA JUGA  Bekerja di Luar Bidang?? Siapa Takut

Tidak heran banyak bermunculan pekerja-pekerja yang tidak terlatih, dalam artian mereka hanya lulusan SD atau SMP yang mengadu nasib, mencoba peruntungan menjadi laden. Banyak dari mereka datang dari keluarga miskin yang tidak memiliki biaya untuk melanjutkan sekolah dan memilih untuk ikut bekerja dengan pekerja konstruksi yang lebih berpengalaman kerja. Harapannya dengan mereka ikut bekerja, mereka dapat belajar keahlian tertentu di dunia konstruksi, entah itu perkayuan, pembesian atau memasang batu; yang nantinya akan menjadi bekal bagi karir mereka di dunia konstruksi selanjutnya.

Konstruksi memang merupakan usaha bernilai besar dan juga lowongan bagi potensi-potensi kecurangan. Hingar-bingarnya menutupi kerasnya kehidupan nyata konstruksi yang menyimpan kerinduan, hasrat dan mimpi-mimpi terpendam ratusan pekerja-pekerjanya.



Artikel Terkait dan Link Sponsor

Selayang pandang pekerja konstruksi Post in | Last updated: December 11th, 2016 - 18 views

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

19 + 2 =