Peran Orang Tua dan Masyarakat mendidik Generasi yang Berkarakter



Istilah bahwa anak yang lahir ke dunia bagaikan kertas putih kosong bukanlah suatu istilah tanpa makna, meskipun kebanyakan dari kita akan sulit memahami maksudnya. Namun, jika kita mencoba memahami arti dari kata ‘karakter’, mungkin pikiran kita akan sedikit terbuka, karena istilah ini sangat erat kaitannya dengan perilaku seseorang.  Kata karakter berasal dari bahasa Yunani, ‘karasso’; ada pula yang menyebut ‘kharaseein’, dimana ‘karasoo’ artinya ‘to mark’ dan ‘kharaseein’ artinya mengukir tanda, biasanya di kertas atau lilin sebagai pembeda. Artinya generasi yang berkarakter bisa juga dimaknai sebagai penanda identitas diri yang membedakan dari orang lain.

Saat seorang anak lahir, lingkungan keluarga dimana semua anggota keluarganya, termasuk kedua orang tua serta orang-orang di lingkungan dimana dia dilahirkan, memiliki andil dalam menandai si ‘kertas putih kosong’ ini, dan menggambarkan bagaimana anak itu nantinya di masa mendatang. Sampai di sini, kemungkinan ada sedikit terbersit kecemasan merayapi, bagi kita yang peduli dengan masa depan anak-anak kita; dimana kita mengenal betul bagaimana lingkungan di sekitar kita dan apakah hal itu sudah memenuhi keinginan kita tentang anak-anak kita di masa mendatang?

Pendidikan karakter
Pendidikan karakter (Ilustrasi/pixabay)

Meskipun para ahli memperdebatkan tentang mana yang paling mempengaruhi karakter seseorang, antara ‘nature’ atau bawaan lahir, atau ‘nurture’ atau pembinaan dari lingkungan tempat si anak tinggal; keduanya tidak dapat lepas dari proses konstruksi tingkah laku seseorang. Dalam artian, mendidik anak, harus juga memperhatikan lingkungan yang mendukung bagi pembentukan karakternya. Terlebih lagi, di era globalisasi seperti sekarang ini, seseorang akan cenderung hanya mengikuti arus; mencari gampangnya, karena hal itu yang membuatnya aman daripada melawan arus dan akan membuatnya berhadapan dengan berbagai hal.

Tidak ada hal lain yang paling menakutkan bagi orang tua selain melihat anak yang mereka kasihi harus berhadapan dengan berbagai kesulitan yang ditemui di dalam kehidupannya. Berbagai kemudahan kemudian diciptakan untuk meringankan kesulitan-kesulitan tersebut. Menjadi komoditas komersial tersendiri di berbagai lini, ditambah tekanan ekonomi, memaksa kebanyakan orang tua cenderung menyerahkan berbagai metode pendidikan anak-anaknya kepada pihak ketiga, dalam hal ini sekolah dan lembaga-lembaga pendidikan non-formal/informal lainnya. Waktu kemudian menjadi ‘worth for money’ daripada ‘worth for children’.

Setiap orang tua, tentunya menginginkan anaknya akan menjadi anak yang cerdas, pintar dan berhasil di masa mendatang. Namun, orang tua dalam usahanya menciptakan generasi yang diinginkan, sebaiknya tidak semata mementingkan kemampuan kognitif anak atau kemampuan dalam berbagai ilmu pengetahuan, tetapi harus juga mengutamakan pendidikan karakternya.

Apabila orang tua sadar akan semakin beratnya tantangan kehidupan di masa mendatang, ketatnya persaingan di dunia kerja, belum lagi tekanan-tekanan standar kehidupan yang cenderung semakin meningkat di masa depan, maka mereka akan berpikir dengan baik untuk menentukan cara bagaimana anak-anak mereka akan dididik. Beberapa indikator di bawah ini, yang diambil dari sebuah makalah psikologi berjudul ‘Membangun Peradaban Bangsa Dengan Pendidikan Berkarakter Moral’, dapat dijadikan referensi memahami karakter yang bermoral secara umum.

  1. Ciri kepribadian yang bisa diartikan sebagai integritas, akan menjunjung nilai-nilai dan memiliki kepribadian yang teguh dengan aturan yang diinternalisasi kepada dirinya. Dia tidak akan goyah dengan pengaruh lingkungan social yang tidak sesuai dengan nilai-nilai serta aturan-aturan yang dipercayainya.
  2. Kepekaan sosial yang tinggi, dimana seseorang memiliki kemampuan membina hubungan dan mengutamakan kepentingan orang lain; tak pelak akan memberikan perhargaan bagi keberadaan mereka di dalam masyarakat.
  3. Kemampuan mengatasi konflik dan dilematis di dalam dirinya untuk memilih dan memilah pengaruh lingkungan sosial yang menyimpang dari lingkungannya. Seseorang dengan karakter ini mempunyai pemahaman, berdasarkan integritasnya mengatasi pengaruh-pengaruh buruk dari lingkungan dan mampu mengambil posisi yang tidak bertentangan dengan intergritasnya atas nilai atau aturan yang diinternalisasi kepada dirinya.

Berbagai kesulitan pasti akan ada dan hal itu tidak dapat dihindari. Bagaimanapun, orang tua berusaha untuk melindungi anak-anaknya, tak pelak berbagai tantangan hidup akan harus dihadapi olehnya satu per satu. Justru kesulitan-kesulitan tersebut yang akan membangun karakter dari si anak, sehingga dalam prosesnya orang tua sebaiknya mendampingi dalam membimbing dan mengarahkan anak-anaknya menjadi pribadi yang tangguh dan ber-integritas tinggi. Yang perlu dilakukan oleh orang tua ialah membekali anak-anaknya dengan nilai-nilai dan aturan serta etika yang baik, menjadi tempat berbagi dalam setiap peristiwa dalam kehidupannya dan mengajari bagaimana mengambil pelajaran dari peristiwa tersebut sebagai pegangan hidup.

Pada kenyataannya orang tualah yang paling berperan dalam pendidikan karakter dari anak-anaknya. Ketiga karakter di atas merepresentasikan daya tahan seseorang terhadap tantangan dalam kehidupan. Kemampuan kognitif yang dilengkapi dengan karakter di atas akan menciptakan generasi berkarakter yang berhasil di masa mendatang, menjanjikan kemajuan bagi bangsa dan peradaban yang tangguh dan mandiri. Mengingat pentingnya peran para orang tua dan masyarakat, maka sepatutnya kita harus bijaksana dalam menandai ‘kertas putih kosong’ yang hadir di lingkungan kita untuk masa depan yang lebih cerah.



Artikel Terkait dan Link Sponsor

Peran Orang Tua dan Masyarakat mendidik Generasi yang Berkarakter Post in | Last updated: October 3rd, 2016 - 12 views

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

3 × three =